Pembaca Budiman - Desember 2016 

Kelahiran yang

Mengubah Hidup

Menjelang akhir tahun 2015, Priscilla Chan, istri Mark Zuckerberg, melahirkan anak perempuan yang diberi nama Maxima Chan Zuckerberg. Mark Zuckerberg adalah pendiri sekaligus CEO Facebook. Tak lama setelah kelahiran Max, demikian nama panggilan bayi berbobot 3,4 kilogram itu, Mark Zuckerberg memaklumkan akan mendonasikan 99 persen sahamnya di Facebook untuk proyek kemanusiaan seperti kesehatan, pendidikan, akses internet, promosi kesetaraan, dan perkembangan potensi manusia.

 

Saham itu diperkirakan bernilai US$ 45 miliar atau Rp 618 triliun. “Kami tahu ini hanya sumbangan kecil dibandingkan dengan semua sumber daya dan bakat yang diberikan oleh mereka yang bekerja pada masalah-masalah tersebut. Tapi, kami ingin melakukan yang kami bisa, bekerja bersama banyak orang,” tulis Zuckerberg.

 

Dengan kerelaan ini, pada masa depan, Max akan hidup kurang lebih dengan uang sebesar 1% dari seluruh saham ayahnya. Dalam sebuah surat untuk Max, yang kemudian ditampilkan dalam akun Facebook-nya, Zuckerberg menulis, “Kamu telah memberi kami alasan untuk berpikir tentang dunia, tempat kamu hidup. Seperti semua orang tua, kami ingin agar kamu akan hidup di dunia yang lebih baik daripada dunia kami sekarang ini.”

 

Zuckerberg kemudian menulis lagi, “Kami memberikan sumbangan, bukan hanya karena kami mencintaimu, tapi juga karena kami mempunyai kewajiban moral terhadap semua anak dan generasi mendatang.”

 

Orang memang boleh kritis terhadap tindakan Zuckerberg ini. Mungkin ia melakukan itu untuk alasan popularitas, mungkin juga untuk menghindari kewajiban pajak yang berat. Mungkin. Tetapi bolehlah kita ingat, dalam situasi apa pun, bahkan yang terjelek sekalipun, kelahiran seorang anak selalu membawa kegembiraan dan rasa syukur.

 

Siapa tahu Zuckerberg yang kaya raya itu tergerak hatinya dan merasakan hidup ini sebagai anugerah dan “mukjizat” karena kelahiran anaknya. Kagum, heran, syukur, indah, itulah perasaan kita semua ketika kita pergi ke gereja merayakan Natal dan mendengar lagu “Malam Terang, Malam Kudus”.

 

Ada banyak hal yang tak dapat diterangkan dan tak terkatakan dalam kejadian itu. Hanya kedamaian dan keindahan yang bisa kita rasakan. Semuanya tinggal kita terima, walau kedengarannya hanya seperti dongeng. Sering di dalam hidup ini kita harus menerima dongeng. Tanpa dongeng itu, hidup kita takkan terbentuk dan kita tidak pernah bisa belajar untuk hidup.

 

Demikian pula dengan peristiwa Natal. Dalam peristiwa Natal memang banyak tersembunyi rahasia, yang pengungkapannya mungkin kedengaran seperti dongeng. Kelahiran Yesus memang tidak banyak meninggalkan data historis. Maklum, Gereja Purba lebih mengenang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus sebagai pokok iman dan keprihatinannya.

 

Baru kemudian mereka mencoba mengenang peristiwa kelahiran Yesus. Lukas misalnya, baru menuliskan hal itu 80 tahun kemudian sejak kelahiran Yesus. Karena itu, ia membuat kisah yang amat singkat saja, tetapi padat. “Waktu Kaisar Agustus memberi perintah, semua orang harus pergi mendaftarkan diri untuk cacah jiwa, Yusuf dan Maria, tunangannya yang sedang mengandung, juga pergi dari Nasaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem. Ketika mereka tiba di sana, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkus-Nya dengan lampin dan dibaringkan-Nya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Waktu itu malaikat Tuhan memberi tahu kepada para gembala, “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Lalu larilah gembala-gembala itu ke tempat bayi Yesus dibaringkan” (Luk 2: 1-19).

 

Lukas tidak menyusun laporan sejarah objektif. Pada pokoknya, ia mau mewartakan: Tuhan telah datang ke dunia dalam wujud seorang bayi kecil miskin. Tuhan itu dilahirkan tidak di istana, tetapi di kandang hina.

 

Penulisan ini justru berlainan dengan penulisan sejarah biasanya, karena tidak berisi tentang peristiwa besar di sekitar kerajaan dan raja-raja. Lukas ingin menuliskan tentang masuknya Tuhan dalam sejarah. Masuknya Tuhan itu seperti kilat, yang mematahkan segala perhitungan manusia. Masuknya Tuhan ke dalam sejarah itu membuat semuanya baru, sehingga harus dipikirkan secara baru pula.

 

Kebaruan itu adalah rahasia kisah Natal: Tuhan tidak lagi di awang-awang surga tinggi, Tuhan justru rela lahir sebagai manusia biasa. Setiap peristiwa kelahiran manusia selalu membawa kegembiraan dan harapan. Demikian pula dengan kelahiran Tuhan dalam diri Bayi Yesus, anak Maria itu. Kelahiran Yesus memberikan kegembiraan, sekaligus janji, bahwa akan terjadi sesuatu yang baru di dunia ini. Betapa pun Dia hanyalah bayi kecil, tetapi karena Ia sungguh dilahirkan sebagai manusia, maka janji akan sesuatu yang baru nanti itu adalah suatu kesungguhan.

 

Justru karena Tuhan telah menjadi manusia biasa, maka Tuhan bukanlah dongeng lagi. Tuhan akan berada bersama dengan manusia, dalam suka dan dukanya. Dalam segala suka dan duka itu, Tuhan akan memberikan harapan dan arah, serta kemungkinan hidup yang sama sekali baru.

 

Maka, memperingati Natal bukanlah sekadar romantisme Malam Kudus, Malam Sunyi. Merayakan Natal berarti kesediaan untuk percaya bahwa Tuhan datang hendak membawakan janji dan harapan yang baru bagi kita. Janji dan harapan itu seharusnya mengubah hidup kita yang lama. Seperti Tuhan memperbarui perjanjian-Nya dengan rela menjadi manusia secara nyata, demikian pula kita ingin dilahirkan menjadi manusia baru secara nyata pula.

 

Kehadiran Tuhan sebagai manusia telah mematahkan pelbagai pegangan, ajaran, dan kepastian hidup manusia, lalu menggantinya menjadi pegangan, ajaran, dan kepastian baru, yang membebaskan dan membahagiakan kita. Natal meminta kita untuk percaya dan memeluk pegangan baru yang membebaskan dan membahagiakan itu. Dan itu tak lain tak bukan adalah Yesus beserta seluruh hidup dan ajaran-Nya.

 

Dengan kelahiran Max, anak perempuannya, Mark Zuckerberg rela menyumbangkan sebagian besar sahamnya bagi kemanusiaan. Bagi Zuckerberg, kelahiran Max adalah alasan untuk memikirkan dan mewujudkan lahirnya dunia secara baru, dunia yang lebih baik daripada dunia kami sekarang ini.

 

Kelahiran memang harus mengubah hidup ini. Apalagi jika itu adalah kelahiran Tuhan di dunia ini. Seharusnya, kelahiran Tuhan membuat kita percaya bahwa Tuhan mengajak kita untuk mengubah hidup lama kita, lalu mengusahakan sesuatu yang baru secara nyata di lingkungan hidup kita masing-masing. Kita percaya, itu bisa kita lakukan, sebab dengan kelahiran-Nya di dunia, Tuhan sekarang sungguh beserta kita. 

Selamat Natal!

Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran