Inilah sebuah cerita pendek yang amat menarik, karangan seorang penulis Swiss, Hanz Künzler. Alkisah, ada seorang anak ajaib. Dalam usianya yang sangat muda, ia telah mengenal seluruh dunia. Ia hanya tinggal di rumah orang tuanya, toh segala perihal dunia diketahuinya. Sampai dari mana-mana orang datang untuk mendengarnya dan meminta nasihatnya.

 

Ia amat pandai bicara. Segala perta- nyaan dapat dijawabnya dengan kata-kata yang amat panjang dan kaya. Orang tak tahu, dari mana ia memperoleh semuanya itu. Semua seperti sudah tersedia dalam mulutnya. Namanya terkenal di seluruh dunia, dan segera orang-orang di mana saja ingin memetik pengetahuan darinya.

 

Ia memutuskan untuk mengembara dan bertekad mengetahui serta menyelidiki sendiri semua hal yang diketahuinya. Be- lum satu jam meninggalkan rumahnya,
ia sudah berada di persimpangan jalan, yang memaksanya untuk memilih di antara kemungkinan-kemungkinan, yang tak mungkin dijalaninya, sekaligus juga bagi anak seajaib dia. Ia memilih sebuah jalan, dan ia melihat di kanan kirinya hanyalah jurang. Dunianya tiba-tiba terasa kecil menyurut. Selanjutnya, ia menjumpai lagi jalan yang bercabang-cabang, dan dengan memilih yang satu, ia pasti kehilangan lain- nya. Demikian terus terjadi di persimpangan yang ketiga, dan keempat, dan selanjutnya.

 

Tiap jalan yang dilaluinya, tiap pilihan yang dilakukannya, menyudutkannya ke dalam langkah yang meraba-raba dalam keadaan yang makin menyempit. Jika
ia sekarang tiba di desa-desa, ia makin kehilangan kata-katanya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya makin miskin dan sedikit. Ucapannya tidak mengalir

seperti dulu, ketika ia masih berada dalam kebebasan yang demikian banyak. Ia tidak banyak bicara lagi, karena merasa begitu terbebani dengan ketidakpastian yang ia alami sepanjang jalan sampai saat ini.

 

Ia terus berjalan dan menjadi tua. Ia bukan anak ajaib lagi. Ribuan jalan telah dilaluinya. Pelbagai kemungkinan telah dilepaskannya. Kata-katanya makin sedikit dan sedikit, dan hampir tak ada lagi orang yang datang untuk mendengarkannya.

 

Di sebuah jalan, ia duduk di atas sebuah batu penanda jarak, dan bicara dengan dirinya sendiri, “Aku selalu hanya kehilangan, kehilangan tanah berpijak, pengetahuan, dan impian-impian. Sepanjang hidupku, aku menjadi makin kecil dan kecil. Setiap langkah telah membawaku pergi dari sesuatu. Lebih baik aku tinggal di rumah, tempat aku tahu segalanya sehingga aku tak usah pernah harus membuat keputusan, dan semua kemungkinan-kemungkinan tetap ada di hadapanku.”

 

Meski lelah, ia terus melanjutkan jalannya sampai akhir. Toh, ia sudah

memulainya. Sekarang mestinya tinggal beberapa langkah saja. Sekarang tak ada lagi jalan percabangan. Yang tertinggal hanyalah satu arah. Ia juga tinggal mem- punyai satu kata akhir bagi semua penge- tahuan dan ucapannya. Untuk satu kata itu, napasnya kiranya masih mencukupi. Ia lalu mengatakan satu kata itu, yang tidak didengar siapa pun, dan ia pun memandang ke sekitarnya, dan ia terkejut, bahwa ia telah sampai di sebuah puncak.

 

Dari puncak itu tampaklah baginya tempat-tempat yang kelihatan sebagai teras- teras, tempat-tempat yang telah hilang darinya. Ia memandang seluruh dunia, juga jurang-jurang yang telah dilaluinya. Selama hidupnya, ia ternyata terus berjalan maju, walau dalam perjalanan sepanjang hidup itu ia telah menjadi makin kecil dan kecil.

 

Cerita di atas menunjukkan bahwa hidup kita ini mesti berjalan dari pilihan ke pilihan. Setiap kali kita mesti menjatuhkan pilihan. Setiap kali pilihan itu terjadi, kita mesti kehilangan. Memilih yang satu, berarti kehilangan yang lain, atau malah banyak kehilangan yang lain. Makin hari pilihan kita menjadi makin sedikit. Kita tidak bisa apa- apa lagi, kecuali menerima apa yang makin sedikit itu.

 

Hidup yang sebenarnya memang lain dengan hidup dalam lamunan, impian,
dan cita-cita. Lewat impian, lamunan, dan cita-cita, kita bisa memikirkan kemungkinan apa saja. Kemungkinan-kemungkinan itu pun seakan nyata. Tetapi, begitu kita menjalani hidup yang sebenarnya, kemungkinan-kemungkinan itu satu per satu tanggal, karena dalam setiap tahapan hidup, kita memang hanya harus memilih satu kemungkinan di antara sekian banyak kemungkinan.

 

Tanpa memilih pun, hidup kita juga makin menjadi berkurang dan berkurang. Soalnya, tanpa kita mau, seiring dengan umur, kita mesti mengalami perpisahan dan kehilangan. Hidup ini banyak sekali ditandai dengan perpisahan. Setiap tahap hidup harus berakhir. Masa anak-anak diganti dengan masa remaja, lalu masa dewasa, dan tua. Pekerjaan lama harus ditinggalkan. Belum lagi peristiwa yang memaksa kita untuk memilih orientasi baru. Orang-
orang yang kita cintai pergi satu per satu. Semuanya itu bisa menyedihkan, tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua seakan hilang dan takkan kembali.

 

Tetapi, benarkah semuanya itu sungguh hilang? Dalam hal ini, sebelum belajar
dari iman, baiklah kita belajar dari alam. Menurut para ahli ilmu alam, alam ini sungguh penuh keajaiban dan murah hati. Apa yang hilang darinya sebenarnya tidak hilang, tetapi diubah menjadi kehidupan dan energi yang baru. Kata Lorenz Marti, pakar ilmu alam, energi itu tidak dapat tiada atau dihilangkan, tetapi selalu diperbarui. Apa yang kita alami, juga yang telah tiada, diangkat dalam ingatan kosmos.

Tak suatu pun yang hilang. Tak suatu pun akan dilupakan. Ini semua memberi makna bagi manusia, makna yang mengatasi dan melampaui keberadaannya.

Jika alam saja demikian ajaib dan murah hati, apalagi Penciptanya. Kata penulis

Elisabeth Schieffer, iman Kristen percaya bahwa hidup kita diangkat dalam Tuhan, hingga kita boleh mengambil bagian dalam kepenuhan-Nya. Jadi, tahap per tahap hidup ini, juga dengan kehilangannya, diambil, diangkat, diubah, dan disempurnakan men- jadi kepenuhannya. Ketika kita menjadi tua, kita merasa kehilangan apa yang menjadi kehebatan dan kekuatan masa muda.

 

Sebenarnya, kita tidak kehilangan. Semua yang kita miliki dan kemudian hilang itu sesungguhnya sedang diubah, disempurnakan oleh Tuhan, menjadi sesuatu yang baru, yang dulu tidak kita miliki dan rasakan. Ketika kita menjadi tua dan merasa telah mencicipi banyak hal, lalu kita bersyukur dan merasa bahagia. Tidakkah ini bukti sedang terjadi suatu perubahan dan kepenuhan, dan bukan suatu kehilangan pada diri kita? Badan kita menjadi lemah. Tetapi dalam kelemahan itu kita mengalami sesuatu yang tidak kita alami ketika kita dalam keadaan kuat dulu.

 

Dengan dipaksa melakukan pilihan- pilihan, kita memang dipaksa meninggalkan apa yang kita cintai dan miliki. Kehilangan itu ternyata melapangkan hidup kita kelak. Kita merasa lega dan tak terbebani. Kita seperti anak ajaib yang menjadi dewasa itu. Di ujung jalan, ia menjadi makin sederhana. Ia tidak memerlukan lagi kata-kata. Ia tidak lagi berada di persimpangan jalan. Ia tidak perlu merasa sakit dan sedih karena harus memilih. Akhirnya, ia tiba di puncak.

Ketika ia melihat ke bawah, ia merasa, apa yang dulu dimilikinya tidaklah hilang, tetapi telah diubah dalam kelegaan, kepuasan, dan kebahagiaan yang tak terkatakan. Kiranya, itulah yang terjadi dengan hidup beriman: ketika semuanya sudah diangkat dan diubah dalam kepenuhan Tuhan, kita tidak berpikir lagi tentang kehilangan dan pahitnya pilihan, kita hanya merasa bahagia, bersyukur boleh mengambil bagian dari kepenuhan dan kesempurnaan-Nya. 

 

Salam,
Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

Pembaca Budiman - Februari 2017 

Kepenuhan karena Kehilangan

Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran