Setiap orang pasti ingin sukses. Karena itu, banyak sekali orang yang tergoda untuk mengikuti kursus, pelatihan, atau seminar bertemakan cara meraih sukses. Motivator­motivator bermunculan. Dengan gaya dan kata menggugah, mereka menawarkan resep­resep meraih sukses. Seiring dengan itu adalah terbitnya ­buku motivasi yang laris manis bukan main, misalnya 50 resep meraih sukses, rahasia kesuksesan, tiga langkah sederhana menuju sukses, dan lain sebagainya.

 

Seperti manusia umumnya, orang Kristen juga ingin sukses. Tetapi, apakah sesungguhnya sukses itu bagi orang Kristen? “Sukses” sebenarnya bukanlah kata atau pengertian yang ada dalam kamus kehidupan tradisi Kristiani. Tradisi Kristiani berbicara tentang hidup yang baik dan benar, bukan hidup yang sukses, serta berpegang pada prinsip moral: tak ada hidup yang benar dan baik dalam hidup yang salah dan jahat. Berpegang pada tradisi ini, sukses tidaklah dilarang, tetapi mesti juga diwaspadai. Belum tentu, sukses itu benar dan baik.

 

Menurut Kardinal Reinhard Marx, Uskup Agung München ­Freising yang juga anggota dewan kardinal penasihat Paus Fransiskus, hidup kita harus dipandu agar benar­-benar dapat mengarah kepada yang baik. Tanpa panduan ke arah yang baik itu, masyarakat dan kebudayaan kita, apalagi di tengah keragaman dan pluralisme seperti sekarang, akan hancur berantakan. Bayangkan, apa yang terjadi jika orang hanya ingin meraih kesuksesannya sendiri­, tanpa mau memperhatikan apa yang baik demi masyarakat.

Kesuksesan yang hanya bertujuan mencukupi dan menyenangkan hidupnya sendiri itu pasti akan membuat ambruknya masyarakat. Terlihat di sini, sukses yang digembar-gemborkan dewasa ini belum tentu baik, karena kesuksesan itu bisa berangkat dari dan demi egoisme diri, yang berlawanan dengan cita­-cita meraih yang baik bagi kepentingan bersama seluruh masyarakat.

 

Karena itu, tradisi Kristiani tidaklah mengajarkan cara meraih sukses, tetapi bagaimana meraih hidup yang benar dan baik. Untuk meraih hidup yang benar dan baik itu, tradisi Kristiani juga mempunyai “resep”, yaitu “empat keutamaan”. Mendengar keutamaan, janganlah kita kaget atau tertegun, seakan itu adalah hal yang begitu luhur dan berada di luar jangkauan kita, manusia yang lemah dan terbatas ini. Menurut Kardinal Marx, keutamaan itu sebenarnya memuat hal yang sangat sederhana. Hidup kita menjadi utama, karena kita mengenakan apa yang pas dan membuat sreg hidup kita. Nilai yang muluk-­muluk, betapa pun terdengar luhur, belum tentu membuat kita menjadi sreg dan merasa pas.

 

Inilah empat keutamaan, yang membuat kita merasa sreg dan pas sebagai orang Kristen: kebijaksanaan, keadilan, ketabahan, dan tahu batas. Seperti dipahami oleh Kardinal Marx, beginilah empat keutamaan Kristen itu diterangkan.

 

PERTAMA, kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan, kita akan berpikir dengan akal sehat. Kita dimampukan untuk memisahkan yang benar dari yang salah, dan dibebaskan dari segala prasangka yang tidak perlu. Kita juga dimampukan untuk berpikir sendiri, tidak anut grubyuk, tetapi juga mampu mengoreksi dan mengkritisi pikiran kita sendiri.

Kebijaksanaan ini menyangkut kecerdasan, tetapi bukan melulu kecerdasan. Kebijaksanaan ini tidak diperoleh dengan membaca banyak buku, tetapi dengan peka terhadap suara hati dan rajin mengolah akal sehat. Karena itu, kebijaksanaan ini mungkin bagi setiap orang, juga mereka yang mungkin dianggap bodoh. Malah sebaliknya, seperti dikatakan Yesus sendiri, rahasia kebijaksanaan itu justru tersembunyi bagi mereka yang merasa diri bijak dan pandai, dan dinyatakan kepada mereka yang dianggap bodoh dan kecil (Mat 11: 25). Sukses sering menjadi monopoli orang yang kuat, pandai, dan berada. Oleh sebab itu, kita bisa maklum, jika sukses sering mengecualikan mereka yang bodoh dan tertinggal, padahal dalam diri mereka ini juga tersimpan kebijaksanaan.

 

KEDUA, keadilan. Dengan keadilan, kita akan menjadikan hidup kita baik, berhasil, dan bahagia. Jika kita tidak adil, kita akan merusak hidup kita sendiri dan hidup sesama kita. Keadilan ini sudah dirumuskan oleh Yesus sendiri: apa yang kamu inginkan untuk dirimu, buatlah itu untuk orang lain juga. Atau dirumuskan secara lain, jika kamu tidak menyukai sesuatu, janganlah kamu menuntut orang lain membuat sesuatu yang tidak kamu sukai itu. Kita sendiri akan dirugikan, bila kita berlaku tidak adil. Maka, kita juga mesti belajar berpikir dari pihak orang lain, menyelaminya, dan lalu bertindak adil karenanya. Maka ada bahaya, bila kita hanya berpikir tentang sukses kita sendiri, kita akan terjerumus ke dalam ketidakadilan terhadap sesama.

 

KETIGA, ketabahan. Ketabahan ini bukanlah disiplin militer yang kaku. Keta­bahan adalah kemauan untuk dengan segenap tenaga mengejar cita-­cita kebaikan yang sudah digariskan. Dalam ketabahan itu tak hanya terkandung kesetiaan, tetapi juga kesungguhan. Kita tidak mudah menyerah dan tidak mengasihani diri, bila dihadapkan pada kesukaran dan kesulitan. Malah berani bangkit, bila kita gagal.

 

Ketabahan juga menyangkut keberanian untuk mempertahankan keyakinan. Walaupun kita minoritas, kita harus terus berani memperjuangkan keyakinan kita di hadapan kaum mayoritas yang menekan kita. Menyangkut keyakinan, kita tak boleh melakukan banyak kompromi. Bila kita hanya mengejar sukses, sering kita tergoda untuk melakukan kompromi­-kompromi yang mungkin menguntungkan kepentingan kita, tetapi mengkhianati keyakinan kita.

 

KEEMPAT, tahu batas. Tahu batas ini tidak hanya menyangkut makan dan minum. Kita juga mesti tahu batas dalam hal kerja, sehingga bisa mencapai keseimbangan antara kerja dan hidup. Orang juga mesti mengetahui batas kemampuan dan kemungkinan yang dihadapinya. Jika ia tahu batas, ia juga akan menerima keterbatasan alam, yang tak mungkin terus-­menerus dikuras sumber dayanya. Jika tak tahu batas, orang akan kehilangan pegangan atau tempat berpijak. Hidupnya akan goyah dan oleng, membuat dia tidak bahagia.

 

Jelas, tahu batas di sini bertentangan dengan pengertian sukses, yang mudah sekali menjerumuskan kita ke dalam godaan untuk memiliki dan meraih yang lebih dan lebih lagi. Orang yang dihantui sukses bila terjerumus ke dalam keserakahan dan kemurkaan, jelas tidak pas dengan keutamaan Kristiani yang keempat ini.

 

Kata Kardinal Marx, empat keutamaan itu adalah empat kuda yang menarik kereta hidup kita menuju yang baik dan benar. Dengan empat keutamaan itu, kiranya kita boleh selalu memeriksa diri bila kita dihantui keinginan untuk sukses. Sudahkah sukses kita membuat kita bijaksana untuk membedakan yang benar dan yang salah, dan tak membuat kita sombong terhadap mereka yang lemah dan miskin? Adil dalam memperlakukan sesama? Tabah dalam mempertahankan keyakinan kita? Tahu batas dalam mengejar kekayaan dan harta?

 

Dengan cara ini, diam-­diam kita diajak untuk memahami bahwa kesuksesan yang ditawarkan dunia modern ini belum tentu sreg dan pas buat hidup kita sebagai orang Kristen. Apa yang tidak pas dan sreg pasti adalah hal yang tidak utama buat kita. Pantas jika itu akhirnya membuat hidup kita tidak bahagia.

 

Salam,
Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

Hidup Bukan untuk Meraih Sukses

Pembaca Budiman Maret 2017

Foto: Slamet Riyadi

Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran