Pembaca Budiman - Oktober 2016 

Maria, Perawan Keheningan

Di antara dua tangga berjalan menuju istana kepausan, tergantung sebuah ikon Maria yang khas dan indah. Ikon ini adalah hasil karya seorang biarawati dari Piemont, sebuah wilayah di Italia Utara. Ikon itu dihaturkan sebagai hadiah untuk Paus Fransiskus oleh Mariella Enoc, pemimpin klinik anak-anak, Bambino Gesu, yang dikelola oleh Vatikan. Ikon ini tak terbilang modern. Motifnya mirip-mirip dengan gambar di jendela-jendela Katedral Faras

di Sudan.

Nama ikon unik itu Vergine del Silenzio, Perawan Keheningan. Tergambar di sana, Mariameletakkan ujung telunjuk kanannya di bibirnya. Maria seakan ingin mengingatkan, “Sssst ... diamlah.” Nada simbolik ikon asal Italia itu mirip dengan ikon Santa Anna, ibu dari Maria, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Warschau, Polandia.

Ikon Santa Anna juga mengisyaratkan, “Diamlah”. Mungkin ini isyarat misteri penjelmaan Tuhan menjadi manusia. Dalam iman Kristen, penjelmaan Tuhan adalah misteri yang tak mungkin ditangkap dan diutarakan dalam kata-kata. Santa Anna kiranya meraba, misteri itu bakal terjadi dalam diri putrinya, Maria. Tetapi toh ia hanya bisa diam.

 

Lebih jelas lagi, “motif diam” itu tampak dalam ikon Byzantine yang menggambarkan Santo Yohanes. Lebih daripada tiga pengarang Injil lainnya, Yohanes dikenal banyak menulis tentang Sabda yang menjadi manusia. Tetapi tentang itu, ia juga harus diam. Maka, ada ikon Gereja Timur yang menggambarkan Yohanes menaruh jari pada bibirnya, tanda bahwa dalam keterbatasannya, kata-kata tak mampu mengungkapkan apa yang tak bisa dikatakan.

 

Semua itu mengungkapkan apa yang dikatakan filsuf bahasa, Ludwig Wittgenstein, “Bila orang tak bisa mengatakan sesuatu tentangnya, haruslah dia diam.”

 

Maria adalah teladan sikap diam itu. Dalam Injil terungkap, betapa Maria tak mengerti misteri yang dialaminya, mengapa Tuhan memilihnya. Namun, ia diam dan menerima segala hal yang harus terjadi padanya karena rencana Allah.

 

Ia tidak mengerti perbuatan Putranya. Tetapi ia tidak memakai ketidakmengertiannya sebagai bahan untuk dipersoalkan dan dibicarakan. Ia menerimanya dengan diam, sampai di kaki salib Putranya.

 

Mungkin hati dan pikirannya memberontak. Tetapi sikap diamnya mengalahkan dan meneduhkan perlawanannya. Dan, ia menjadi tenang dan diam dalam ketidakmengertiannya.

 

Menurut Santa Edith Stein, Maria adalah teladan utama, bagaimana kita harus diam di hadapan Allah. Dengan diamnya, Maria menjadi seluruhnya terbuka bagi Tuhan dan sesama. Dengan diam-diam pula
Tuhan bekerja di dalam dirinya. Maria selalu menimbang-nimbang sabda Allah dengan hening dan diam. Itulah sebenarnya inti terdalam dari kehidupan doa kita.

 

Tuhan tak dapat kita dekati dengan “teknik doa”. Betapa pun “teknik doa” itu kelihatannya suci, tak mungkinlah Tuhan dapat direbut dengan “teknik doa” itu. Hanya Tuhan sendiri yang menentukan, kapan dan bagaimana ia masuk dan mendatangi kita.

 

Untuk itu, kita harus seperti Maria: tinggal diam, terbuka, dan mempersilakan Tuhan masuk dan bekerja dalam diri kita. Dengan diamnya, Maria juga memperlihatkan kehakikatan seorang wanita. Lebih daripada pria, wanita itu terpanggil untuk memelihara, merawat, melindungi, dan membesarkan ciptaan.

 

Tugas ini tidak bisa dijalankan secara abstrak. Seperti Maria, setiap perempuan harus merawat dan melindungi siapa yang dipercayakan kepadanya secara konkret dan dalam hidup sehari-hari yang nyata.

 

Hanya karena perbuatan Maria yang konkret itu, maka Tuhan dapat terawat, terpelihara, dan menjadi besar dalam penjelmaannya menjadi manusia. Maria tidak banyak berpikir, ia hanya memberikan diri dengan penuh cinta kepada Putranya. Dan itu dikerjakannya dengan diam, karena memang ia tidak mengerti dan memahami misteri hidup yang sedang terjadi padanya.

Paus Fransiskus juga berulang kali mengingatkan, agar kita berani diam dan mau mengambil waktu untuk diam. Hanya dengan diam, kita bisa merasakan Tuhan yang transenden itu. Diam ini tak bisa kita paksakan dengan teknik, misalnya dengan mendengarkan lagu-lagu rohani.

 

Diam itu harus muncul dari dalam diri kita. Dalam diam macam ini, kita dapat membuka diri untuk berjumpa dengan Tuhan, dan dengan bantuan Sabda-Nya, kita bisa melangkah maju ke arah yang Dia tentukan.

 

Menurut Paus, Yesus tidak berdiri di luar kita, lalu mengetuk pintu kita “dari luar”, baru kita bisa mempersilakan Dia masuk. Tidak, Yesus sudah ada dalam diri kita, Ia mengetuk pintu hati kita “dari dalam”. Kalau kita mendengar-Nya, kita akan sadar bahwa sudah dari semula Ia tinggal dalam diri kita dan bekerja untuk kita.

Itulah yang seharusnya kita lakukan bila berdoa. Maka, kita harus berani menyisihkan waktu untuk sejenak meninggalkan kesibukan kita dan pergi untuk berdoa.

 

Jadi, berdoa bukan pertama-tama berarti berbincang-bincang dengan Tuhan, tetapi tinggal dalam diam, merasakan kehadiran Allah, dan membiarkan Allah bekerja dalam diri kita. Paus sendiri selalu menganjurkan cara yang ia pakai ketika berdoa: “Memandang

Tuhan, tetapi lebih-lebih membiarkan diri dipandang Tuhan.” Karena itu, Paus selalu menyempatkan diri duduk atau berlutut di hadapan tabernakel.

 

Ia tak tergoda untuk melihat jam tangannya, karena ia ingin melewatkan waktu bersama Tuhan. “Kadang saya tertidur, ketika duduk di sana, dan membiarkan diri saya dipandangi-Nya, apa adanya. Saya merasa, seakan-akan saya berada di tangan ‘Seorang Liyan’, seakan- akan Tuhan mengulurkan tangan-Nya kepada saya,” tutur Paus Fransiskus.

 

Di tengah kesibukannya, Paus adalah pecinta keheningan. Dapat dimengerti, mengapa ia sengaja meletakan ikon Virgine del Silenzio, Maria Perawan Keheningan itu, justru di wilayah istana kepausan. Maria menaruh ujung jari telunjuknya di bibirnya, mengingatkan agar kita mau diam. Janganlah kita terus bicara, sibuk dengan telepon genggam kita.

 

Menurut tradisi Bapa Gereja, banyak bicara adalah kebiasaan buruk yang bisa menyeret kita ke dalam dosa. Sebab, terlalu banyak bicara bisa memalingkan kita dari apa yang pokok dan menyeret kita untuk selalu tidak puas.

 

Paus juga pernah mengingatkan, bahkan dengan nada menegur, agar para pembesar Gereja, termasuk para kardinal, tidak terjatuh ke dalam teror kata-kata dan pergunjingan. Itu adalah penyakit yang awalnya kelihatan ringan, tetapi lama-lama bisa merusak.

 

Dengan pergunjingan dan rerasanan, kita sebenarnya telah pelahan-lahan membunuh seorang kawan dan teman sejawat. “Itu adalah penyakit para pengecut, yang tidak berani bicara berhadap-hadapan, hanya berani bicara di belakang,” kata Paus.

Maka, kadang kita harus berani diam seperti Maria, Virgine del Silenzio. Ada baiknya, rahmat diam itu kita mohon pada bulan Oktober ini, bulan saat kita ingin berdoa kepada Maria, Perawan Keheningan itu.

Salam,
 

Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

Pembaca Budiman September 2016

Pembaca Budiman Agustus 2016

Pembaca Budiman Juli 2016

Pembaca Budiman Juni 2016

Pembaca Budiman Mei 2016

Pembaca Budiman April 2016

Pembaca Budiman Maret 2016

Pembaca Budiman Februari 2016

Pembaca Budiman Januari 2016

Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran