• Majalahutusan.com

Antara Kesetiaan dan Cinta "Ave Maryam"


Ave Maryam (2018)

Diolah dari refleksi dan diskusi bersama Jesuit Insight di Kolese St. Ignatius Yogyakarta, 11 April 2019.


Menjelang perayaan paskah tahun ini, umat Katolik disajikan film bernuansa kehidupan membiara karya sutradara Robby Ertanto Soediskam dengan judul Ave Maryam. Meski menceritakan kisah seorang Suster dan seorang Romo, Murti Hadi Wijayanto, SJ, Wakil Direktur Studio Audio Puskat yang juga seorang imam Serikat Jesus ini menegaskan bahwa Ave Maryam bukan sebuah film rohani Katolik. “Ave Maryam bukan berisi tentang ajaran yang perlu diwartakan, film ini bercerita tentang kemanusiaan yang relevan dan kontekstual dialami para Romo, Suster, awam, juga awam non Katolik,” kata imam yang biasa disapa Rm Murti, SJ ini.


Dalam sebuah diskusi film Ave Maryam yang diadakan Jesuit Insight, ditemukan bahwa Ave Maryam berkisah tentang nilai-nilai kemanusiaan mendalam dengan gaya penyajian ala film-film Eropa yang minim dialog dan menyajikan setting tempat yang eksotis.

Rm Murti, SJ, produser Soegija (2012), mengapresiasi film yang diperankan oleh Chicco Jerikho dan Maudy Koesnaedi ini sebagai karya yang digarap apik oleh sutradara berpengalaman. “Film ini sangat menyentuh hati dan mengaduk-aduk perasaan saya, karena saya seoarang pastor. Saya juga terkesan karena ceritanya bagus dan seru,” ucapnya.


Kesetiaan


Perjalanan menjadi seorang biarawan bukanlah jalan yang mulus, sekurang-kurangnya dibutuhkan 8 – 10 tahun sejak lulus SMA untuk digembleng dalam pendidikan khusus. Bagi tarekat tertentu bahkan dibutuhkan waktu belasan tahun sampai ia ditahbiskan menjadi seorang pastor.


Tantangan pertama adalah meyakinkan keluarga, sebab pilihan menjadi suster atau pastor artinya pilihan untuk tidak menikah seumur hidupnya. Pada tahapan ini banyak orang tua yang lebih ingin anaknya meneruskan keturunan dan melanjutkan bisnis yang telah dibangun orang tua, terlebih jika hanya punya satu anak.


Mengawali proses di seminari, sekolah khusus persiapan awal menjadi pastor, merupakan sebuah masa pemurnian niat untuk memutuskan menjadi pastor atau tidak. Jika ya, maka mesti memilih ordo mana yang akan ia libati sesisa hidupnya. Jika memilih ordo Serikat Jesus, maka prosesnya dilanjutkan ke Novisiat Girisonta Semarang.


Di Girisonta, seorang frater digembleng dengan ajaran-ajaran Santo Ignasius dan menjalani laku spiritualnya. Tak hanya hidup doa dan olah spiritual, sebelum menjadi menjadi seorang Imam Jesuit, mereka diterjunkan untuk menjadi “miskin” sebagai buruh pabrik, pekerja bangunan, dan pekerjaan kasar lainnya, juga ditugaskan belajar di karya-karya Serikat Jesus seperti Kolese Kanisius, Kolese De Britto, Kolese Loyola, Universitas Sanata Dharma, dan karya-karya lain di dalam dan luar negeri.


Belasan tahun kemudian hingga saatnya mereka ditahbiskan barulah awal dari kehidupan religius yang dikisahkan dalam Ave Maryam. Mereka akan dipindahkan setiap kurang lebih 5 tahun untuk menjalani tugas baru dari Provinsial, tugas apa saja dan di mana saja. Bahkan meski sudah ditahbiskan menjadi seorang imam (Jesuit), ia harus mengajukan diri menjadi anggota Serikat Jesus langsung ke Pater Jenderal dengan syarat-syarat tertentu dan terkadang butuh waktu bertahun-tahun hingga ia diterima.


Kesetiaan dalam panggilan merupakan sebuah tantangan yang hebat dalam kehidupan religius, bahkan Rm Murti, SJ mengungkap jalan kaum tertahbis adalah jalan kerapuhan. “Hidup para biarawan biarawati itu rapuh, banyak tantangan dan harus tetap teguh dalam panggilan. Tetapi menurut saya, para suster dalam hal ini lebih tangguh dari para romo,” ungkapnya.


Kesepian


Seorang peserta refleksi film mengatakan bahwa jarak terjauh sebuah hubungan bukanlah long distance relationship atau hubungan jarak jauh, melainkan ketika seorang menyapa Assalamualaikum tetapi dijawab Shalom oleh pacarnya. “Tapi ternyata ada jarak yang lebih jauh, seperti Suster Maryam dengan Romo Yosef, saling menyukai dan seiman tapi tak bisa bersama,” ucap peserta ini.


“Saat Maryam diajak ke pantai, saya seperti menginjak rem. Dalam hati saya bergumam, ‘Jangan, jangan mau diajak’, karena saya tahu akan jadi bagaimana,” kata Rm Murti, SJ. Lulusan The International Film & Television School Paris ini berkata bahwa kesepian adalah tema yang sering dibawakan dalam film-film gaya Eropa dan merupakan tema yang sering mengusik penontonnya. “Kesepian lebih kejam dari kematian dan masalahnya adalah lebih banyak godaan dan orang lebih mudah tergoda saat kesepian,” tambah Rm Murti, SJ


Kesepian juga merupakan sesuatu yang berbahaya bagi banyak orang, karena kala sepi itu tak terolah bisa berwujud bentuk pelampiasan pada konsumerisme, perselingkuhan. Cinta sangat mudah diterima saat seseorang sedang kesepian, bahkan diterima di tempat dan waktu yang salah.


Kesepian bukan berarti kesendirian, kesepian justru sering terjadi dalam keramaian dan keriuhan hidup. Kesepian adalah disposisi batin yang menolak kelimpahan dan kebahagiaan yang “berserakan” di sekitarnya. Bagi seorang yang kesepian, tidur beralas emas pun tak ada gunanya, tetap merasa kurang. Kesepian adalah kehausan batin yang dipenuhi dengan cara-cara singkat: mencari perhatian.


Cinta

Ave Maryam (2018)

Cinta bukanlah perkara “aku suka kamu”, cinta yang dimaksud di sini adalah cinta yang telah melewati Eros (Yunani: cinta berdasarkan hawa nafsu saja) atau cinta/perhatian yang diberikan seseorang agar cinta/perhatian itu diberikan kembali padanya – cinta diri.


Bukan pula cinta Philia atau cinta yang bersifat relasional: aku mencintaimu karena kamu baik, cantik, perhatian, pengertian, dan lain sebagainya. Philia adalah cinta pada orang-orang “pilihan” saja, tidak cinta pada semesta dan sesama.


Kita berbicara tentang cinta Agape, cinta pada level tertinggi. Cinta Agape sudah bebas dari urusan seks, lepas dari pertimbangan baik buruk, tidak lagi memandang batasan-batasan pembeda antar pribadi, seperti: fisik, suku, agama, ras, jenis kelamin, rupawan atau tidak, kaya atau miskin, pintar atau bodoh.

Gabriel Marcel, filsuf dari Perancis, membahasakan Agape dengan cara demikian: “aku” dan “engkau” menjadi “kita”, di dalam “kita” aku melihat “diriku” di dalam “dirimu” dan “engkau” menemukan diriku di dalam “dirimu”. Atau seperti yang tertulis pada Lukas 10: 27 "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


Cinta Agape adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Cinta yang menurut John Powel dalam buku Mengapa Takut Mencinta adalah cinta yang melupakan diri. Baca: Cintaku Jawaban Akan Cinta-Nya.


Menurut Rm Murti SJ, baik awam maupun kaum tertahbis berkarya dengan cinta. Namun kaum tertahbis sudah hidup dan menghidupi dengan cinta Agepe, sehingga terbebas dari ego, eksistensi, dan kesepian.


“Semua orang bergerak dengan cinta, tetapi Romo dan Suster bergerak dengan cinta yang beyond,” ucap Rm Murti SJ. Cinta beyond atau cinta Agape itu adalah energi dalam hidup membiara. “Seharusnya sudah tidak lagi cinta eros yang melihat orang ganteng atau cantik sedikit sudah mulai goyah,” tambahnya.


Kerapuhan


Hidup dengan cinta eros dan philia sama saja merajut kerapuhan dalam relasi, karena masih pada upaya-upaya pemuasan diri. Pada titik inilah banyak orang terjungkal dalam kesalahan, seperti Suster Maryam. Namun kerapuhan relasi cinta eros dan philia tak semata milik kaum tertahbis, relasi ini miliki siapa saja yang punya hati dan hidup bersama orang lain.


Cinta yang berdasarkan upaya pemuasan diri akan berujung penderitaan dan kesepian kala apa yang diharapkan tak terjadi, atau bahkan pemuasan diri itu menjadi candu yang mendorong melakukan segala upaya agar terus terpenuhi.


Seperti dikutip dari buku Mengapa Takut Mencinta:

“Seorang pemuda yang mengaku mencintai seorang gadis mungkin menipu dirinya dengan menyebut apa yang dilakukannya demi kepentingan egoistis sebagai cinta. Juga pemudi yang merasakan kesepiannya terisi karena berdekatan dan diperhatikan seorang pemuda, mungkin menganggap kepuasan perasaannya itulah cinta. Demikian juga bapak atau ibu yang berusaha sekuat tenaga mendorong anak-anaknya mencapai sukses: mereka menganggap dirinya orangtua yang penuh kasih sayang, sedangkan mungkin mereka hanya mengikuti nafsu kebanggaan sendiri. Maka tanyakanlah selalu; apakah pemuda atau pemudi, bapak atau ibu itu benar-benar melupakan diri, kesenangan dan rasa puasnya sendiri untuk sepenuhnya mengabdi pada kebahagiaan orang yang dicintai itu?


Sedikit banyaknya, setiap orang menderita pahit getir jiwa yang disebabkan oleh rasa kesepian, frustrasi dan kehausan emosional maupun spiritual. Seringkali kepahitan-kepahitan itu adalah akibat dari kegagalan cinta. Kebanyakan manusia begitu penuh perhatian kepada dirinya sendiri sehingga tidak mungkin keluar dari dirinya dan mencintai benar-benar dengan sepenuh hati”.


Pemaafan


Cinta berdasarkan cinta diri selalu berujung penderitaan dan kesepian, dalam penderitaan dan kesepian itu banyak orang kemudian melakukan kesalahan, seperti yang dilakukan Suster Maryam dan Romo Yosef.


Tanpa bermaksud spoiler, saya ingin menuliskan sedikit makna mendalam dari adegan ketika Suster Maryam pulang dari pantai. Ia telah melakukan dosa berat sebagai seorang suster, namun sesampainya di biara, semua suster menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan satu per satu menyalami serta memeluknya penuh kasih.


Ini adalah salah satu adegan yang amat emosional. Dapat kita bayangkan, saat kita jatuh dalam kedosaan dan kesalahan fatal, komunitas dan keluarga masih menerima kita sepenuh hati.


Kesetiaan, kesepian, cinta, kerapuhan, dan pemaafan merupakan tema kemanusiaan, tema hidup yang dialami tak hanya oleh para suster dan pastor, tetapi juga awam. Sebagai orang muda, tema-tema itu sangatlah mendalam dan dibutuhkan. Belajar bagaimana setia pada pasangan, pekerjaan, pilihan hidup, hingga hidup membiara. Merasakan bahwa dalam keriuhan hidup bermedia sosial yang hampir selalu nampak bahagia, bisa jadi orang tersebut merasakan kesepian yang dalam.


Dari film ini siapa saja bisa belajar bagaimana cinta Agape para kaum tertahbis, juga belajar bahwa terkadang seseorang harus menapaki jalan kerapuhannya masing-masing.


Dalam sebuah postingan di akun Instagram Jesuit Insight, sutradara Ave Maryam menulis demikian, "Terimakasih, salam buat para sahabat di Yogya, film ini respect saya untuk para biarawati dan romo yang setia pada kaulnya. Dari mereka yang juga manusia biasa kita belajar arti kesetiaan 🙏🏻, selamat menonton," tulis akun Instagram @ertantorobbysoediskam ini.


Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca untuk mendengarkan puisi yang sangat indah dari Romo Sindhunta, SJ yang berjudul Doa Seorang Jesuit (Pendosa yang Dipanggil Tuhan).


Yohanes Bara

Bekerja di Majalah BASIS dan Majalah UTUSAN Dapat disapa melalui Instagram @yohanes.bara

153 tampilan
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran