• Majalahutusan.com

Menghilangkan Stres karena Tumpukan Barang


Sekarang di pelbagai negeri, juga di Indonesia, sedang mulai merebak semangat dan gerakan tyding up. Artinya, gerakan rapi-rapi atau bersih-bersih. Gerakan ini antara lain diinspirasikan oleh Marie Kondo, yang terkenal dengan metodenya bernama KonMari.


Semboyannya adalah own less, live more: memiliki sedikit, agar dapat hidup dengan lebih banyak. Hikmahnya, hidup itu jauh lebih penting daripada memiliki barang-barang. Maka, metode KonMari mengajak orang untuk menata kembali barang-barangnya, lalu memilih-milihnya, dan menyingkirkan barang- barang yang jelas sudah tidak diperlukannya lagi. Ternyata, barang yang tidak kita perlukan lagi sangatlah berguna bagi orang lain yang sedang memerlukannya dan bisa memakainya.


Seperti dilaporkan oleh koran Jakarta Post (6/2/19), beginilah misalnya kisah seorang ibu rumah tangga bernama Dwina Lubna yang mempraktikkan gerakan tersebut. Lubna mengumpulkan pakaiannya yang sudah tidak dikenakannya lagi. Ia terkejut, pakaian itu terlihat memenuhi satu kotak kardus besar. “Saya baru sadar, hampir 80% pakaian saya mungkin akan berakhir di pembuangan sampah. Saya tak ingin hal itu terjadi,”katanya. Maka, Lubna mencari informasi, bagaimana barang-barang itu bisa disumbangkan untuk orang lain yang membutuhkan.


Baca: P. Citra Triwamwoto: Tumbuh di Tanah Subur


Lewat online, ia menemukan pelayanan sumbang.in. Pelayanan ini bersedia mengambil barang-barang tersebut. Lubna tinggal menaruh di depan pintu rumahnya. Ia kemudian mendapat laporan, ke mana atau bagi siapa barang-barangnya tadi disumbangkan.“Dengan menyumbang, barang-barang kita yang sudah seperti sampah ternyata bisa menjadi milik berharga bagi orang lain,” kata Lubna.


Di Bekasi juga ada pelayanan semacam itu. Ketika didirikan, tahun 2006, pelayanan itu dinamai Brankas Akhirat. Tahun 2016 diubah menjadi Donasi Barang. Pelayanan ini mengumpulkan barang-barang elektronik, pakaian, perabot, dan barang bekas lainnya. Barang-barang itu dijual, hasil penjualannya didonasikan antara lain ke Rumah Autis dan pendidikan anak-anak autis. Karena jasa media sosial, tahun 2018, donasi lembaga itu bisa naik 80%. Tercatat, tahun 2018 lembaga pelayanan ini berhasil mengumpulkan

30.000 pakaian bekas, 150 tas, 250 perabot, 500 barang elektronik, 20.000 buku, dan 24 kotak barang-barang lain.


Di Jakarta dan Bandung, Februari 2019, muncul Sadari Sedari. Dengan mengumpulkan dan menjual barang bekas, lembaga ini bisa mendanai pendidikan 35 anak di Bandung. Spirit dari kelompok ini adalah mencintai lingkungan. Dalam industri pakaian dan fashion yang demikian cepat, banyak pakaian yang akhirnya terbuang menjadi sampah. Sekalian memelihara lingkungan, pakaian itu bisa dijual untuk donasi pendidikan. Dalam waktu singkat, kelompok ini bisa mengumpulkan 10.000 potong pakaian dan 80% darinya berhasil dijual dan dijadikan donasi untuk pendidikan.


Ada lagi lembaga namanya Sedekah Mainan. Lembaga ini beroperasi tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Denpasar, Bali dan Samarinda, Kalimantan Timur. Lembaga ini berhasil mengumpulkan 165 kilogram mainan yang didonasikan untuk anak-anak korban bencana, sekian banyak lagi mainan dan boneka untuk didonasikan kepada anak-anak lain yang membutuhkan.


Ternyata barang-barang yang tidak kita gunakan bisa berguna untuk orang lain.

Padahal bila barang-barang itu kita tahan terus, kita bisa stres. Seperti ditulis oleh Reader Digest (Januari 2017), 40% orang yang disurvei oleh The Australian Institute mengaku mengalami depresi, gelisah, dan merasa bersalah karena tumpukan barang tak terpakai di rumahnya. Sebanyak 88% rumah-rumah di Australia mempunyai paling tidak satu ruang untuk gudang barang tak berguna itu. Di rumah lain, bisa dua sampai tiga ruang digunakan untuk barang-barang itu.


Di Indonesia kiranya juga terjadi pengalaman serupa. Orang memang suka menyimpan barangnya yang sudah tidak berguna lagi. Padahal, seperti diteliti oleh sebuah studi dari Princenton University, jika rumah kita rapikan dan barang tak berguna kita singkirkan, kemampuan kita untuk konsentrasi dan berfokus akan bertambah, otak kita juga diringankan dari banyak beban, sehingga kita bisa berpikir dengan lebih jernih.


Tak heran sekarang orang suka berpegang pada pedoman less is more, kurang itu justru lebih. Di Melbourne, misalnya, mulai ada gerakan untuk menawarkan rumah hunian yang kecil. Rumah macam ini dibangun dengan harga murah, menyediakan ruangan secukupnya, tapi bisa memberi rasa nyaman bagi penghuninya.


Baca: Romo Sindhu: "Urip Iki Urut"


Semboyan less is more itu misalnya dipraktikkan oleh Deborah Hardy dan suaminya. Bila berlibur ke luar negeri, mereka hanya membawa koper kecil berisi barang yang memang dibutuhkan.“Dengan barang seadanya, semuanya menjadi lebih mudah. Kita tak usah repot dengan urusan bagasi, tak khawatir kehilangan barang, dan bebas merencanakan perjalanan.


Untuk mempraktikkan cara bepergian yang serbaminimalis itu, Deborah dan suaminya serius mempersiapkan barang- barangnya. Ini tidak mudah, karena ia harus menimbang cermat dan memilih mana barang yang memang dibutuhkan,

serta meninggalkan barang mana yang kelihatannya perlu padahal nantinya tidak diperlukan. Misalnya, ia harus memilih pakaian berbahan ringan dan mudah mencucinya. Ia harus mencintai pakaian yang dipilihnya, karena pakaian itu akan dikenakannya lagi dan lagi.


Sharing pengalaman di atas kiranya menunjukkan, kalau kita mengumpulkan barang, itu sebenarnya lebih disebabkan oleh rasa khawatir, jangan-jangan barang-barang itu masih kita butuhkan. Padahal, bertahun-tahun barang-barang itu tergeletak tak terpakai atau nganggur tersimpan di lemari. Itu sebenarnya sudah menjadi bukti yang cukup bahwa barang-barang itu tak kita butuhkan. Sesungguhnya, barang-barang itu lebih menjadi beban daripada kebutuhan.


Maka, benarlah pengalaman Brooke McAlary ini. Semula ia takut menyingkirkan barang-

barangnya. Namun, begitu ia berani menyingkirkannya, ia diliputi rasa lega luar biasa. “Sebelumnya saya tak merasa bahwa barang-barang itu adalah beban yang berat. Tapi begitu barang itu tidak ada, saya baru tahu, betapa berat sebenarnya barang itu dulu membebani saya. Saya menjadi bebas. Dulu saya merasa berat dan khawatir jika kehilangan barang saya. Sekarang tidak, saya malah bertekad, setiap enam bulan untuk menyingkirkan barang yang tidak saya perlukan, agar hidup saya menjadi makin ringan dan bebas,” kata McAlary.


Melepas barang dan milik adalah latihan melepas segala kelekatan tak teratur kita pada materi duniawi belaka. Hidup rohani meminta kita untuk berani lepas dari kelekatan tak teratur itu. Hanya dengan berani lepas bebas terhadap milik kita, hati kita akan menjadi makin bebas, luas, dan tersedia bagi rahmat Allah yang telah lama menanti untuk bekerja, membebaskan, meringankan, dan menyelamatkan hidup kita.

Baik mungkin bila kita berdoa untuk benar-benar boleh mengalami bahwa merapikan dan melepas barang dan milik di rumah kita ternyata adalah latihan un- tuk menjadi lepas bebas di mata Allah.


G. P. Sindhunata, SJ - Instagram: @gp_sindhunata

Pemimpin redaksi


Langganan www.TjapPetroek.com



50 tampilan
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran