• Majalahutusan.com

Tumbuh di Tahan Subur

P. Citra Triwamwoto

Gambar: Bambang Shakuntala

Pada suatu sore Pak Kasiman, tetangga depan rumah, menyapa saya, “Mas Citra, pohon beringinnya sudah terlalu lebat daunnya. Kalau tidak segera dipangkas, nanti jadi sarang setan, loh. Mas Doni, keponakanku yang sering pulang malam, beberapa kali melihat setan di pohon mangga Mas Ari, kadang di pohon rambutan Pak Kisno. Setelah pohon-pohon mereka ditebang, setan itu terlihat di pohon beringin Mas Citra.”


Aku tidak menyangkal. Hanya tersenyum mengiyakan. Setelah Pak Kasiman masuk rumah, aku segera membalikkan badan dan memperhatikan pohon beringin di halaman depan rumah yang tidak terlalu luas. Tanpa perlu waktu lama, saya segera tahu mengapa Pak Kasiman memintaku memangkas pohon beringinku. Rupanya beberapa ujung daunnya sudah melilit kabel listrik di gang rumah kami. Namun, bukan hal ini yang perlu diperhatikan.


Yang menjadi perhatianku adalah mengapa pohon yang rimbun, khususnya beringin, selalu dihubungkan dengan keberadaan setan. Bukankah di rindangnya dedaunan pohon beringin itu ada banyak burung bersarang? Di pedesaan pohon beringin tumbuh melebar di persimpangan jalan, menjadi tempat pengendara yang lewat untuk berteduh. Di kota-kota lama pohon beringin ditanam berpasangan di tengah alun-alun sebagai penanda pusat kota.


Jadi, jika pohon beringin memiliki banyak kebaikan, pasti Tuhan ikut berkarya menciptakannya sehingga setan tidak mungkin tinggal di situ. Cara berpikir masyarakat bahwa pepohonan yang rimbun adalah tempat tinggal setan atau makhluk halus sungguh tidak bisa dipahami.


Rimbun berarti pohon itu berdaun lebat atau dalam jarak yang dekat tumbuh banyak pohon. Akibatnya, sinar matahari sulit menerobos sampai ke tanah karena terhalang dedaunan yang lebat. Namun, di atas tanah akan banyak sekali daun-daun yang rontok sehingga semakin menyuburkan tanah itu. Bisa dibayangkan akan ada sarang semut atau serangga lainnya dan berbagai binatang hidup di antaranya.


Kerimbunan pepohonan ternyata penuh dengan kehidupan. Bukan hanya makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, Tuhan pun akan berkenan memberkatinya. Kepercayaan inilah yang menyebabkan berbagai suku bangsa dan agama menghormati pohon-pohon besar atau hutan-hutan yang lebat. Tanpa disadari, kepercayaan ini di samping melestarikan kesuburan tempat itu, juga menghormati Tuhan yang menciptakan kesuburan tanah dan tumbuhnya berbagai pohon besar.


Baca: Maria Perawan Keheningan


Santo Fransiskus Assisi menyebut semua ciptaan Tuhan di alam raya sebagai “saudara”. Di dalam madah Gita Sang Surya, orang kudus ini menyebut mereka sebagai Tuan Saudara Matahari, Saudari Bulan dan Bintang-bintang. Yang dihormati oleh penerima stigmata ini adalah Tuhan yang menciptakan alam raya. Semua tumbuhan, semua binatang, semua benda-benda di langit, di laut, di daratan adalah jejak-jejak kehadiran Sang Pencipta sendiri.


Oleh sebab itu, di rimbunnya pepohonan dengan tanah subur di bawahnya dan berbagai kehidupan yang hadir bukan hanya dunia bagi makhluk hidup duniawi, tetapi juga pantas bahkan sangat pantas untuk tersemainya benih-benih sabda Tuhan.


Karena sabda Tuhan tidak bersifat jasmani, tetapi rohani, maka yang dimaksudkan dengan pepohonan yang rimbun dan tanah yang subur kali ini adalah situasi rohani tempat sabda Tuhan bertumbuh, bertunas, berbunga, dan berbuah.


Bagaimanakah situasi rohani yang dimaksudkan di atas? Berikut ini contoh untuk membantu memahaminya.


Pak Sardi dan Bu Sardi memiliki kebiasaan memberi berkat di dahi kepada kedua anaknya setiap akan berangkat ke sekolah. Bu Sardi sudah menyiapkan makanan lengkap di tas mereka sehingga kedua anaknya tidak perlu jajan di kantin sekolah. Kedua anak tersebut berangkat berboncengan dengan ayahnya.


Si sulung sudah duduk di bangku SMP sehingga bisa pulang sendiri dengan menumpang angkutan umum. Si bungsu masih duduk di bangku SD sehingga ketika pulang dijemput ibunya. Pada malam hari mereka makan malam bersama-sama. Menjelang tidur malam mereka berempat akan berdoa malam bersama.


Keseharian keluarga Pak Sardi di atas laksana tanah subur dengan pepohonan rimbun yang akan menumbuhkan benih iman bagi kedua anaknya. Memang di keluargalah iman pertama kali seorang anak dipupuk. Siapakah yang melakukannya? Kedua orang tuanya.


Ayah dan ibu seumpama seorang tukang kebun yang dengan cinta mencangkul tanah di kebun agar menjadi empuk bagi tumbuhnya akar-akar tanaman. Mereka juga dengan sabar mencabuti rumput-rumput liar dan menyingkirkan batu-batu kerikil agar batang tanaman dapat menembus tanah dan menancap dengan kuat. Tidak lupa setiap pagi dan sore berember-ember air segar disiramkan ke akar dan daun-daun sehingga segarlah tanaman itu.


Berkat di dahi anak, makanan yang disiapkan, berangkat bersama, makan malam bersama, berdoa malam bersama itulah pupuk yang disebarkan si tukang kebun, yaitu si ayah dan si ibu kepada tanaman, yaitu agar iman sang anak semakin menancap dalam dan bertumbuh dengan lebatnya sehingga pada waktunya bunga-bunga akan mekar di ranting-rantingnya dan buah-buah akan muncul di dahan-dahannya.


Banyak keluarga yang menjadi persemaian iman anggota keluarganya. Yang pertama harus disebut adalah Santo Yoakhim dan Santa Anna, orang tua Maria, ibu Yesus Kristus. Pasangan suami-istri ini sangat beriman kepada Tuhan. Mereka memercayakan kehidupan keluarganya kepada penyelenggaraan Tuhan. Mereka mengikuti dengan tekun peribadatan. Dari pasangan inilah lahir Santa Maria. Di dalam Kitab Suci bisa dibaca bagaimana Maria beriman kepada Tuhan seperti diwariskan kedua orang tuanya.


Ketika sudah menikah dengan Santo Yusuf, Maria melanjutkan iman orang tuanya ke dalam keluarganya sendiri. Maria sungguh pantas berpasangan dengan Santo Yusuf, seorang tukang kayu yang sederhana dan tidak banyak cakap, sehingga di dalam Kitab Suci sedikit sekali dituliskan tentang orang kudus ini. Mereka mengajak Yesus ke Bait Allah di Yerusalem. Mereka membukakan kitab-kitab para nabi sehingga Yesus memiliki dasar iman yang kuat. Pada akhirnya seluruh pengajaran iman di keluarga kudus Nazaret ini menyiapkan Yesus untuk mengorbankan diri di kayu salib.


Santo Agustinus, Uskup dari Hippo, adalah contoh yang lain. Pada masa mudanya ia hidup berfoya-foya. Bahkan, ia pernah memiliki seorang anak. Namun, ia kemudian bertobat karena doa terus-menerus dari sang ibu, yaitu Santa Monika. Melihat kehidupan anaknya yang jauh dari Tuhan, sang ibu berdoa tanpa henti agar anaknya mau berpaling kembali kepada Tuhan. Doa yang penuh cinta itu dikabulkan Tuhan. Santo Agustinus bertobat, tetapi itu memerlukan waktu dua puluh tahun.


Keluarga yang menyerahkan keseharian hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan seumpama rimbunnya pepohonan yang diurus tukang kebun. Akan banyak berkat yang diterima di dalam keluarga itu. Kehidupan keluarga Pak Sardi, keluarga Santo Yoakhim, keluarga Santo Yusuf, dan keluarga Santa Monika menjadi teladan bagi kita.


Keluarga-keluarga modern seharusnya semakin membuka diri terhadap sabda Tuhan. Uang dan harta benda memang diperlukan untuk membantu kehidupan kita, tetapi mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya akan menyelamatkan hidup kita. Bukankah tertulis di dalam Kitab Suci bahwa “bukan hanya makanan yang menghidupi kita, tetapi terlebih setiap sabda Tuhan”.


Untuk itulah para suami-istri diundang untuk bukan hanya bekerja keras dan mengumpulkan harta benda, tetapi terlebih mendampingi anak-anaknya berdoa dalam kehidupan sehari-hari maupun mengajak ke gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, menerima sakramen-sakramen Gereja, dan mengikuti berbagai kegiatan sosial di gereja agar dengan demikian suburlah iman di dalam keluarga kita. ***


Terbit di Majalah UTUSAN edisi Januari 2019

29 tampilan
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran