Menguasai Lidah Rasan-rasan

November 1, 2016

 

Mungkin kita pernah mendengar kisah ini. Ada seseorang yang suka ngrasani (bergunjing) jelek tentang tetangganya. Tetangganya mendengar rasan-rasan itu. Orang tersebut insyaf dan datang ke tetangganya tadi dan berjanji, “Aku tidak akan ngrasani kamu lagi. Aku menarik semua kata-kataku yang jelek tentang kamu.”

 

Jawab tetangganya, “Tak ada alasan bagiku untuk tidak memaafkan kamu. Tapi aku ingin agar kamu melakukan kompensasi atas kata-katamu itu.” “Melakukan apa pun aku siap,” sahut orang tersebut. Si tetangga masuk ke ruang tidurnya, lalu keluar membawa bantal dan berkata, “Bawalah bantal ini sampai ke rumah, yang seratus meter jaraknya dari sini. Lalu lubangilah bantal ini. Sambil membawa bantal ini kembali ke sini, lemparkanlah bulu-bulunya ke kanan dan kiri jalan yang kamu lalui. Itu adalah kompensasi pertama dari perbuatanmu.”

 

Orang itu mengerjakan permintaan ini. Lalu sambil menunjukkan sarung bantal yang sudah kosong, ia bertanya, “Manakah kompensasi berikutnya yang harus aku buat?” “Pergilah kembali ke rumah itu, dan kumpulkanlah lagi bulu-bulu yang kau tebarkan itu,” pinta si tetangga. Orang itu langsung menukas, “Aku tak mungkin dapat mengumpulkan lagi bulu-bulu yang telah aku tebarkan. Apalagi sementara itu, angin telah menerbangkan bulu-bulu itu. Bagaimana mungkin aku dapat meraihnya lagi?”

 

Si tetangga yang dirasani mengangguk serius. “Kata-kata itu yang ingin aku dengar dari kamu. Persis begitulah yang terjadi dengan rasan-rasan dan fitnah. Sekali kamu menebarkannya, rasan-rasan dan fitnah itu akan beterbangan, tertiup angin ke mana-mana. Kita tidak tahu lagi, ke mana terbangnya. Dan kita tidak lagi dapat menangkapnya,” tutur si tetangga.

 

Ngrasani itu penyakit hampir setiap orang. Bahkan, orang yang kelihatannya baik, pendiam, dan alim pun dengan mudah terjerumus ke dalam penyakit ngrasani itu. Orang yang dekat dengan kita saja kita rasani, apalagi orang yang kita anggap lawan, musuh, atau saingan! Tentang dia, kita punya segudang kata dan anggapan jelek, yang bisa begitu saja keluar dari mulut tanpa bisa kita kendalikan.

 

Kita sadar, kata-kata itu belum tentu benar dan kalau kita ungkapkan pasti melukai orang yang kita rasani. Toh dengan niat baik apa pun, berat rasanya bagi kita untuk tidak ngrasani dia. Ngrasani kelihatannya adalah bagian dari kelicikan yang melekat pada setiap manusia. Licik, karena dengan ngrasani, berarti seseorang tidak berani berhadapan dari muka ke muka terhadap orang lain, yang menjadi objek rasan-rasan-nya. Orang yang paling gagah, jujur, dan fair pun dilanda oleh kelicikan itu.

 

Bahkan politik, yang seharusnya bersifat publik, juga sering menjadi rasan-rasan pribadi. Jadi, ngrasani itu berarti berbicara di belakang, tak berani terang-terangan. Dasar dari ngrasani itu umumnya bukanlah fakta, tetapi anggapan atau tafsiran kita atas fakta. Anggapan itu sering tidak cocok sama sekali dengan fakta atau kenyataan orang yang kita rasani. Lebih celaka lagi, anggapan atau tafsiran itu masih disertai dengan bumbu-bumbu kisah atau interpretasi dari orang kedua atau ketiga atau keempat dan seterusnya. Jelasnya, rasan-rasan adalah kata-kata yang makin hari makin jauh dari fakta yang sebenarnya, persis seperti kisah bulu yang diterbangkan angin di atas.

 

Maka ada pepatah dari Irlandia, “Rasan-rasan itu buta, tapi bisa lari melebihi kecepatan angin.” Atau yang senada, “Rasan-rasan itu kakinya pendek, tapi sangat cepat jalannya.” Jadi, rasan-rasan mungkin dimulai dari ngrasani hal yang kecil dan tak terlalu bermaksud jelek Tetapi begitu diucapkan, rasan-rasan itu terbang, dibumbui dengan fitnah, kebencian, dendam, dan sebagainya. Akhirnya, tak terkendali lagi. Bahkan orang pertama yang ngrasani, yang sebenarnya tidak berniat sejelek itu, sudah tidak bisa membenarkan dan meluruskannya lagi. Dalam ngrasani, kita melihat betapa kuat daya kata-kata itu, apalagi bila itu adalah kata-kata yang jelek. Menurut Dorothea Sattler, profesor teologi dogmatik di Münster, kata-kata itu menciptakan “dunia”. Lewat katakata, terjadi sesuatu yang baru, di mana dibentuk relasi yang baru, dan meniadakan yang lama, serta persepakatan baru. Jadi, kata-kata itu tidak semata-mata benar atau salah, tetapi juga bisa membentuk yang benar atau yang salah, yang menguntungkan atau merugikan, yang membangun atau menjatuhkan. Jika demikian, bayangkan, bila kita ngrasani, dunia atau kenyataan apa saja yang telah kita bentuk dan lahirkan dari kata-kata rasanan kita. Dunia atau kenyataan itu semu, karena tidak sesuai dengan kenyataan dan sekaligus salah, karena sudah menyimpang jauh dari kebenaran fakta awal. Tetapi dunia itu sudah sulit kita robohkan. Kita terpaksa ikut dalam kekokohan dunia yang kita bangun hanya atas rasan-rasan itu. Dalam dunia atau komunitas macam ini, sangat sulit kita membangun kepercayaan. Kita menjadi saling curiga dan tidak percaya satu sama lain. Betapa pahit, palsu, dan menyesakkan sebenarnya dunia atau komunitas rasan-rasan kita ini. Dalam komunitas rasan-rasan ini kita tidak hanya berprasangka negatif terhadap orang lain, tetapi juga tidak bisa kritis terhadap diri kita sendiri. Maksudnya, sulit sekali kita mau mengakui bahwa kita telah salah dengan rasan-rasan kita. Kita merasa atau menganggap apa yang kita katakan adalah benar, walau dalam lubuk hati kita tahu bahwa itu salah. Lama-lama, sikap ini jadi membatu. Dengan pandangan yang membatu terhadap orang lain yang kita rasani itu, kita membentuk dunia hidup kita seharihari. Sungguh, tanpa kita sadari, kita telah hidup dalam alam atau komunitas yang palsu karena rasan-rasan kita dan karena kita gemar ngrasani. Sehubungan dengan ini, Kitab Amsal sudah memperingatkan, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Ams 18:21). Dengan kata-kata itu, kita diingatkan agar kita berhati-hati menggunakan lidah kita. Ada saatnya lidah kita harus diam dan mulut kita bungkam. Hanya dengan cara itulah kita bisa mencegah rasan-rasan yang mematikan. Kitab Sirakh juga memperingatkan agar kita superwaspada dengan kata-kata. Sebelum semuanya kita katakan, kita harus memikirkan dan mempertimbangkannya. Kita harus kritis terhadap pikiran kita, bahkan berani mendalami hati kita, sebelum kita mengungkapkan semuanya itu dalam kata-kata. Sebab, begitu sudah keluar dari lidah kita, bukan pikiran dan hati kita, tetapi lidahlah yang menguasai kata-kata kita: “Pikiran merupakan permulaan segala pekerjaan, dan pertimbangan mesti mendahului setiap perbuatan. Akar rencana adalah hati. Sebagai tanda perubahan hati muncul keempat bagian ini: baik dan jahat, hidup dan mati, tetap semuanya dikuasai oleh lidah” (Sir 37: 16-17). Ngrasani adalah kekuasaan lidah. Pikiran dan hati kita mungkin tidak menghendaki dan memikirkan yang jahat tentang sesama kita. Tetapi begitu kita sedikit saja kurang waspada terhadap hati dan pikiran kita, kekuasaan lidah langsung menerkam dan menguasai kita. Kita tak dapat lagi melawannya. Kita tak mungkin lagi mengumpulkan bulu-bulu rerasanan yang sudah kadung beterbangan tertiup angin kita. Untuk melawan semuanya itu, tak ada cara lain, kecuali berlatih terus-menerus untuk diam dan mendiamkan lidah kita. Melawan ngrasani, baik kiranya jika kita mohon kepada Tuhan, agar kita dikarunia rahmat untuk diam dan kekuatan untuk menguasai lidah kita. y

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran