St. Ignatius Loyola (2): Dilahirkan Kembali oleh Bacaan Rohani di Loyola

October 8, 2016

Kalah perang dan jatuh terluka di Pamplona membawa Iñigo kembali ke Loyola, Azpetitia, tanah kelahirannya. Di sini, di rumah keluarga Loyola, ia menjalani masa perawatan yang memakan waktu panjang dan membosankan selama sembilan bulan. Tubuhnya tak berdaya di tempat tidur, tetapi imajinasinya untuk menggapai kejayaan dunia terus terbang melayang. Namun pada saat yang lain, sakit pada kakinya mengembalikannya pada kenyataan bahwa kakinya takkan sembuh dengan sempurna seperti sedia kala, tak lagi dapat untuk menari di istana dengan para putri kerajaan maupun untuk berperang melawan musuh.

 

Dalam situasi batin yang terombang-ambing itu dan waktu sengang yang begitu panjang, buku menjadi penghiburannya. Membaca memang menjadi kebiasaan Iñigo yang terbentuk di lingkungan kerajaan. Sebenarnya, ia menginginkan novel-novel ksatria dengan bumbu kisah romantis seperti buku Amadis de Gaula. Tetapi, Magdalena Araoz, kakak iparnya, hanya bisa menyediakan Flos Sanctorum (kisah para kudus) dan Vita Christi (hidup Kristus).

 

Mau apalagi, ia terpaksa membaca buku-buku itu yang perlahan-lahan ternyata merasuki hati dan pikirannya. Dalam hatinya kemudian tumbuh keinginan untuk hidup sebagai ksatria Kristus seperti St. Dominikus dan St. Fransiskus Asisi menggantikan impian akan kehormatan duniawi. Inilah masa ketika seakan Tuhan melaksanakan drama penangkapan jiwa: menyentuh dan mengubah hati lewat bacaan rohani.

 

Terjadilah gerak batin yang hidup (the living within), pikiran dan perasaan yang mengundang Iñigo untuk mencermati serta mengenali arah gerakan-gerakan itu akan membawanya. “Bila berpikir mengenai hal-hal duniawi, ia memang senang sekali, tetapi kalau berhenti, karena capai, ia merasa kering dan tidak puas. Sebaliknya, bila berpikir mau pergi ke Yerusalem tanpa sepatu dan hanya makan sayuran dan menjalankan laku tapa berat seperti para kudus, dia merasa terhibur, bahkan tidak hanya saat ia sedang dalam pikiran tersebut tetapi juga saat-saat sesudahnya.

 

Demikian sedikit-demi sedikit Iñigo mulai menyadari perbedaan roh-roh yang menggerakkannya satu dari setan dan satu dari Allah. Iñigo berusaha mengikuti gerakan-gerakan dari Allah (Wasiat dan Petuah St. Ignatius Loyola 8).

Bila di Pamplona Tuhan melakukan drama pertama, yaitu menangkap jiwa Iñigo saat jatuh terluka, di Loyola dilaksanakan drama kedua, yaitu mengarahkan hati Iñigo melalui bacaan rohani dan mengobarkan kehendaknya akan dambaan-dambaan luhur.  

 

Konsiderasi

Dari perspektif Tuhan yang sabar dan tidak berhenti menjalankan tindakan penyelamatan jiwa, celah kecil dari ruang hidup Iñigo, yaitu kebiasaan membaca buku dan waktu senggang, menjadi saat rahmat bagi Iñigo. Inilah yang biasa dikenal dengan pedagogi bacaan rohani, dengan membaca seseorang dididik untuk membarui hidupnya. Bahkan, bagi Iñigo, melalui bacaan rohani, ia dilahirkan kembali.

 

Kebiasaan dan peristiwa masa lalu apa yang kubiarkan dikenal Tuhan dan dijadikan saat rahmat bagi pembaruan hidupku? Dan kalau aku suka membaca, bagaimana aku mempertajam telinga hatiku agar dapat mendengarkan suara Tuhan yang memanggil-manggil aku dari dalam (the voice that calls within). Jenis suara panggilan seperti ini tidak akan mati dan akan terus memperdengarkan diri. Agar dapat menjadi rahmat bagi hidup kita, yang dibutuhkan hanyalah saat hening dan kepekaan telinga hati di tengah suara-suara berisik dari banyak peristiwa yang tidak semuanya bermakna.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran