St. Ignatius Loyola (3) : Maria Aránzazu: Rahmat Pertobatan dan Rendah Hati

October 16, 2016

Iñigo berasal dari Loyola, Azpeitia, Provinsi Guipúzcoa, Spanyol utara, tempat suku Bask. Suku Bask memiliki tempat peziarahan Bunda Maria Aránzazu, 57 km selatan Loyola. Aránzazu artinya semak berduri dan patung bunda Maria ini ditemukan seorang anak gembala Bask di tengah semak berduri. Dari pertobatan dan kelahiran kembali di Loyola, Iñigo ingin meneladan para kudus, yaitu berziarah ke Yerusalem, tanpa bekal, hanya dengan mengemis. Keluarga Loyola yang mulai menangkap tanda-tanda lahir pertobatannya tidak mendukungnya. “Yakinlah bahwa maksud kepergianku tidak akan mencemarkan nama baik keluarga,” kata Iñigo, kemudian pergi meninggalkan puri Loyola, berjalan kaki ke Yerusalem tanpa bekal.

 

Iñigo meninggalkan Loyola menuju Aránzazu, ditemani dua pembantunya, Andrés de Narbaitz dan Juan de Landeta. Pedro, kakaknya yang adalah seorang imam juga menyertainya. Dalam perjalanan, Iñigo membujuk sang kakak supaya mau berjaga semalam bersamanya di Aránzazu. Mereka berdua mendaki jalan berbatu karang keras ke arah tempat doa tersembunyi, Maria Aránzazu. Iñigo memohon kekuatan dan pertolongan untuk menjalani orientasi hidup baru dan rencana ziarah ke Yerusalem. Lebih daripada itu, disebutkan juga bahwa di tempat peziarahan ini Iñigo berkaul kemurnian. 


Pengalaman berada di Aránzazu bagi Iñigo demikian membekas. Karena itu setelah bertahun-tahun pun masih dikenang manfaatnya: Berjaga semalaman dalam gelapnya tempat doa Aránzazu memberinya terang dan peneguhan peziarahan hidup ke depan. Peristiwa Aránzazu menjadi bagian awal peziarahan yang mengubah hidupnya, seorang tentara dan pendosa menjadi pelayan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

 

Konsiderasi: 
Di ambang pintu Puri Loyola tertera: mewujudkan ketetapan hati memulai hidup baru, meninggalkan masa lalu dan menyerahkan diri kepada Tuhan (se entregó a Dios), Iñigo adalah seorang peziarah (el peregrino). Pada awalnya adalah peziarahan fisik dan selanjutnya adalah juga peziarahan batin yang membentuk identitas dirinya, sang peziarah kehendak Allah. Dari Loyola dan di Aránzazu, horison hati dan pikirannya adalah ziarah jalan kaki menuju Yerusalem. Tetapi pada saat yang sama dipelihara keterbukaan hati bagi campur tangan Tuhan yang mendidik secara berkelanjutan mulai dari campur tangan di Pamplona dengan mematahkan kakinya dan di Loyola dengan sentuhan hati melalui bacaan rohani. 


Adalah inspiratif langkah pertama Iñigo dalam mewujudkan jalan pertobatan, yaitu menuju tempat peziarahan Maria. Di hadapan Maria, ia menyerahkan ketetapan hatinya dan memohon pertolongan serta kekuatan baru. Inigo merasakan dalam-dalam syukur atas rahmat pertobatan, tetapi sekaligus disadari perlunya kerendahan hati menghadapi rencana-rencana baru dan kelemahan diri yang menyertai.

 

Inilah ketegangan berahmat antara rasa syukur dan sikap rendah hati. Rasa syukur berkenaan dengan karya Allah yang telah dimulai dan sikap rendah hati berkenaan dengan ajakan untuk selalu mengandalkan kekuatan Allah dan doa pertolongan Bunda Maria di jalan hidup baru.

Cukup sering di jalan rohani ini suka cita meluap atas sentuhan rahmat pertobatan terhenti oleh karena diabaikannya sisi kerendahan hati memohon kekuatan Tuhan dan pertolongan Bunda Maria dan dukungan orang-orang terdekat.

Dari proses pertobatan Iñigo kita belajar bahwa ziarah jalan pertobatan menyertakan dua keutamaan rohani itu, yaitu rasa syukur atas rahmat pertobatan dan kerendahan hati untuk menjalani.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran