St. Ignatius Loyola (4) : MONTSERRAT: Melepas Kuda, Pedang, dan Pakaian

October 23, 2016

Dari etimologinya Montserrat sering diterangkan sebagai “monte asserado” atau “monte en forma de sierra”. Kata sierra sendiri artinya rangkaian bukit dan montserrat menunjuk rangkaian bukit, gunung bebatuan yang membentuk jajaran seperti gergaji, atau gunung bergeraji. Ini adalah wilayah pegunungan batu sepanjang 11 km dan luas 5 km persegi dengan ketinggian 200-1.224 meter dpl. Tanah bebatuannya merupakan lapisan-lapisan kapur bercampur endapan bebatuan yang lahir dari peristiwa tektonis.

 

Di sini terdapat gua-gua yang dihuni sejak sebelum zaman Kristiani. Pada tahun 1025 seorang senobit benediktin membangun kapel Maria di ketinggian 720 meter. Sejak itu sampai kini, komunitas benediktin menetap di Montserrat. Di basilika biara Benediktin tersebut terdapat patung Maria Hitam sejak akhir abad XII dengan kisah-kisah mukjijatnya. Tempat yang semula milik orang-orang Catalan (Cataluña) ini sejak abad pertengahan dengan biara dan situs Maria-nya menjadi daya tarik banyak peziarah dari berbagai tempat.

 

Dari Aránzazu, Iñigo pergi ke Montserrat. Di sini, dia berjaga semalam seperti saat berada di Aránzazu.
“Ia mengambil keputusan untuk jaga malam sebagai ksatria, tanpa duduk atau berbaring, tetapi kadang-kadang berdiri dan kadang-kadang berlutut, di depan altar Bunda Maria Montserrat. Di situ dia juga mau menanggalkan pakaiannya dan mengenakan persenjataan Kristus. … Setelah berdoa dia mencari bapa pengakuan dan membuat pengakuan dosa umum secara tertulis. Untuk ini dia menghabiskan waktu tiga hari. Bapa pengakuan menyetujui akan meminta seseorang mengambil kembali keledai itu. Pedang dan belatinya digantungkan pada altar Bunda Maria” (Autobiografi. 17).

Iñigo juga menceritakan semua rencana pembaruan hidupnya kepada bapa pengakuan, Juan Chanonnes, seorang benediktin. Pengalaman pengakuan dosa umum itu selanjutnya diwariskan dalam tradisi Latihan Rohani, retret 30 hari menurut St. Ignatius Loyola saat merenungkan dosa-dosa dan belas kasih Allah. Di Montserrat ini pula Iñigo dibimbing untuk melakukan olah rohani doa batin, renungan terstuktur dengan panduan Ejercitatorio de vida espirital (buku latihan kehidupan rohani) karya Abas García Jiménez de Cisneros di Montserrat yang pada waktu itu menjadi pembaru kehidupan rohani dan religius Spanyol dengan dukungan saudaranya, Francisco de Cisneros, pendiri Universitas Alcalla.

 

Di Montserrat inilah Iñigo melepaskan tiga hal yang menjadi simbol identitas lamanya, yaitu pakaian, keledai dan pedang sebagai bagian utuh dari pengakuan dosa umum dan meneruskan secara sungguh-sungguh jalan hidup baru sebagai seorang peziarah. Dalam Autobiografi ditulis demikian.
“Sehari sebelum pesta St. Maria bulan Maret 1522, malam hari, dengan diam-diam dia mencari orang miskin. Ia menanggapkan pakaiannya dan memberikannya kepada orang miskin itu. Ia sendiri mengenakan pakaian yang dicita-citakannya. Ia berlutut di depan altar Bunda Maria sepanjang malam, sekali berlutut, lain kali berdiri dengan tongkat di tangannya” (Autobiografi 18).

 

Konsiderasi
Di Montserrat ini Iñigo mengalami campur tangan Allah lewat seorang bapa pengakuan dan pembimbing rohani. Ini kehadiran pribadi lain yang bisa dikonsultasi dan diperlukan dalam perjalanan rohani. Lebih daripada itu orang-orang seperti ini bisa membantu mengobjektivasi pengalaman rohani pribadi yang tidak selalu benar. Dalam perjalanan rohani, tidak ada orang yang dapat berjalan seorang diri. Selalu orang memerlukan pembimbing, karena perjalanan batin adalah juga saat berdiskresi, merasakan, mengenali, dan memilih bimbingan roh.

 

Orang berkata: It is our need to be helped. Kalau itu seorang pembimbing rohani, peran dan kehadirannya juga representasi dari tradisi, seperti Iñigo yang dibantu dengan oleh Juan Chanones dengan ejercitatorio de la vida spiritual.

 

Poin lain yang inspiratif adalah hal melepaskan simbol manusia lama. Di satu sisi ada tindakan konkret pribadi atas masa lalu, di sisi lain terbuka untuk bimbingan bagi langkah baru. Inilah dua unsur yang selalu ada dalam perjalanan rohani dan menjadikan hidup rohani itu dinamis serta menarik untuk dihayati. "Melepas" sendiri bahasa negatif dan bisa membekaskan rasa sakit. Menyebutnya dengan "memilih cara hidup baru" boleh jadi terasa lebih positif, tanpa kehilangan maksud sejatinya. Melepas sesuatu untuk memilih cara hidup baru atau memilih cara hidup baru dengan melepas sesuatu dari masa lalu.

 

Adakah kita memperhatikan sisi ini untuk hidup beriman kita? Melepas simbol-simbol identitas masa lalu yang dituntut untuk mengikuti Tuhan. Di Montserrat Iñigo melepas tiga simbol identitas: kuda (kenyamanan), pedang (keamaman) dan pakaian (status dan martabat).

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran