St. Ignatius Loyola (5) : MANRESA: Dari Manusia Karung Goni Menjadi Orang Suci

October 30, 2016

Dengan melepas kuda, pedang, dan pakaiannya, Iñigo melepas nama besar Loyola. Ia bukan siapa siapa lagi, selain peziarah miskin berpakaian karung goni. Dari Montserrat, Iñigo turun menuju kota kecil Manresa untuk meneruskan laku rohani dan membuat catatan pengalaman-pengalaman rohaninya.

 

Semula, ia hanya ingin tinggal di tempat ini dalam waktu singkat saja, tetapi ternyata selama sebelas bulan. Pakaian dan cara hidupnya mengundang perhatian. Anak-anak kecil memanggilnya el hombre del saco (manusia karung) oleh karena Iñigo mengenakan pakaian karung yang dia beli di Igualada, dalam perjalanan dari Aránzazu ke Montserrat. Sebutan el hombre de saco selanjutnya berubah menjadi el hombre santo (orang suci).

 

Pada masa ini, Iñigo dididik oleh Allah sendiri untuk hanya mengandalkan kekuatan dan kemurahan hati Allah. Keutamaan itu pula yang hendak dilatihkan melalui ziarah jalan kaki, tanpa bekal, dan tanpa teman ke Yerusalem.

 

Iñigo menjadi peziarah miskin anonim yang tinggal di hospital St. Lusia, tempat penampungan orang miskin dan orang sakit. Ia mengemis untuk menopang hidupnya. Selain bermati raga, peziarah ini juga menjalankan doa-doa panjang di gua kecil Manresa. Akan tetapi, semakin keras ia bermatiraga, semakin sulit dan rumit situasi spiritual yang ia alami. Meski sudah melakukan beberapa kali pengakuan dosa umum di Montserrat, dia mengalami skrupel, rasa bersalah dan berdosa yang berlebihan. Ia pun melebih-lebihkan status dirinya sebagai pendosa. Sedemikian kuat matiraga dan askesenya hingga melemahkan kondisi fisiknya dan ia didapati hampir mati di hospital St. Lusia dikelilingi orang-orang setempat yang mengagumi dan memperhatikannya.

 

Peziarah miskin ini bisa keluar dari situasinya berkat kesadaran baru campur tangan Allah sendiri. Selama sebelas bulan di Manresa, ia menjadi sadar bahwa gambaran dan jalan kesucian yang ia jalani selama ini tidak tepat. Iñigo mengalami pemurnian pertobatannya dalam tiga hal: pertama, kesempurnaan itu tidak tergantung pada usaha manusia sendiri, tetapi pada rahmat Allah; kedua, kesucian sejati itu arahnya rasuli, yaitu membantu mengusahakan keselamatan sesama; dan ketiga, diskresi, yaitu mempertimbangan gerak-gerak roh di dalam batin untuk mengenal kehendak Allah baik menyangkut jalan kesucian diri maupun rasuli.

 

Konsiderasi:
Di Manresa, Iñigo mengalami campur tangan Allah yang luar biasa, yang memurnikan jalan pertobatannya. Dia mengambarkan peristiwa di Manresa sebagai dididik oleh Allah. “Pada waktu itu Allah memperlakukannya seperti seorang guru sekolah terhadap seorang anak. Ia memberi pelajaran kepadanya” (Autob. 27).

 

Tepatnya, di jalan pertobatannya Iñigo, pobre peregrino (peziarah miskin) ini mengalami pemurnian kesadaran dan sikap hati: setiap manusia membutuhkan rahmat Allah untuk peziarahan kebaikannya; hidup ini bermakna ketika diarahkan tidak hanya untuk keselamatan diri sendiri melainkan juga bagi sesama (man for others); dan diskresi.

 

Di Manresa, Iñigo satu tahap lagi menempuh kemauan jalan hidupnya sebagai peziarah kehendak Allah dengan semangat membantu keselamatan sesama dan kebiasaan dan kemampuan berdiskresi, kemampuan untuk membedakan roh-roh di dalam hati. Tiga unsur itulah yang perlu ada dan diberi ruang kerja di alam batin kita supaya hidup ini tidak kosong, hampa makna: rahmat Allah, membantu jiwa-jiwa sesama dan diskresi. Sudahkah kita memberi ruang dalam batin kita untuk rahmat Allah, sesama, dan diskresi?

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran