St. Ignatius Loyola (6) : CARDONER: Mistik Intelektual

November 6, 2016

Pengalaman rohani Iñigo di Manresa ditandai oleh tiga pembelajaran penting identitas rohaninya: ketergantungan kepada rahmat Allah, pembedaan roh serta semangat membantu jiwa-jiwa sesamanya (rasuli). Tetapi perlu dicatat juga pengalaman lain yang istimewa di tepi Sungai Cardoner, yaitu pencerahan luar biasa (eximia ilustración), yang juga biasa disebut mistik intelektual.

 

Bagi Iñigo sendiri, pencerahan ini jauh lebih kaya dibandingkan yang lain. Untuk itu, secara khusus digunakan kata eximia untuk menunjukkan betapa pengalaman tersebut secara istimewa dan luar biasa mempengaruhi cara hidup dan beriman Iñigo. Autobiografi menulis demikian:
“Ia berjalan sambil berdoa penuh devosi, ia duduk sebentar dengan muka ke arah sungai yang mengalir di bawahnya. Ketika ia duduk di situ, mata budi pengertiannya mulai terbuka. Ia mengalami sebuah visiun, tetapi memahami dan mengerti banyak hal, baik hal rohani maupun mengenai iman dan ilmu. Semua itu dengan kejelasan yang besar sehingga segalanya kelihatan baru” (Autob. 30).

 

Sungai Cardoner persis berada di bawah kota kecil Manresa yang mengular ke arah kapel St. Paulus yang kini menjadi kapel stasi. Jalan menuju kapel itu kini menjadi jalan yang cukup besar yang mengikuti alur sungai tersebut. Banyak orang setuju itulah jalan yang disusur Iñigo menuju kapel untuk berdoa, saat sesekali keluar dari gua Manresa. Di seberang sungai terletak salib, tepat di samping bawah jembatan yang dilewati Iñigo saat pertama kali masuk kota Manresa. Ada jalan lain yang lebih tinggi, sedikit di atas gua Manresa. Dari posisi yang lebih tinggi ini, terlihat aliran Sungai Cardoner. Sementarara itu bila memandang ke atas, langit membentang megah dan pandangan jauh ke depan akan mengena siluet Montserat dengan bukit-bukit gergajinya.

 

Sungguh pemandangan alam di tepi Sungai Cardoner mendukung pencerahan istimewa yang membekali Iñigo sebagai dasar kerohaniannya. Seorang muridnya, Heronimus Nadal menulis: “Iñigo tidak hanya diberi pemahaman yang jelas tetapi juga mengerti secara mendalam bagaimana Allah menciptakan dunia dan bagaimana Sang Sabda menjadi manusia”.

 

Pencerahan istimewa yang dialami dan diceritakan Iñigo ini didahului oleh kesaksian tentang pengalaman rohaninya mengenai beberapa misteri penting iman katolik, yaitu Trinitas yang digambarkan seperti tiga tuts organ, yang mau menjelaskan bahwa Trinitas itu adalah soal harmoni karya keselamatan Ilahi. Kedua, mengenai misteri penciptaan. Disertai kegembiraan rohani yang besar Iñigo memahami bagaimana Allah menciptakan dunia. Ketiga, Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus dan keempat kemanusiaan Kristus serta Bunda Maria (Autob. 28-29).

 

Misteri-misteri pokok iman katolik yang disebutkan Iñigo memperlihatkan pengalaman pencerahan ini memang mengena salah satu daya jiwanya, yaitu akal budi (Bersama ingatan dan kehendak, biasa disebut tiga daya jiwa!). Tetapi lebih daripada itu, dari sisi isi, pengalaman ini mencakup misteri-misteri iman katolik. Bisa dibayangkan betapa kokoh, dinamis, kaya dan menantang serta menarik menekuni peziarahan rohani dengan landasan pencerahan akal budi menyangkut misteri-misteri pokok iman kita tersebut.

 

Konsiderasi
Dalam perjalanan hidup beriman ini, dengan segala persoalan dan tantangannya, selalu ada aspek pencerahan; artinya dengan kemampuan akal budi mengerti misteri hidup dan iman ini; pun kalau itu sebagian saja. Tidak seperti pencerahan Iñigo dan memang tidak perlu. Tetapi ada kenyataan benar tentang mistik intelektual dari penghayatan iman dan peziarahan rohani hidup ini. Isinya, dengan akal budi kita mengerti atau pun oleh iman akal budi kita dibimbing dalam peziarahan hidup. Perjalanan rohani tidak saja tidak berlawan dengan, tetapi bahkan melibatkan daya berpikir dan rasionalitas akal budi yang adalah anugerah Allah sendiri. Tentu kesadaran ini sekaligus perlu dibarengi kesediaan tertunduk rendah hati manakala pada saat tertentu dan berkenaan misteri iman ini, akal budi belum sanggup mengurai dan menjelaskannya. Perjalanan rohani sejati ditempuh tanpa takut ditanyai akal budi, bahkan sebaliknya kita terbuka oleh kemampuan pencerahannya dan pencerahan ini merupakan bagian dari perjalanan rohani. Sudahkah kita menyediakan ruang untuk akal budi dalam peziarahan hidup ini? Sudahkah akal budi kita tertunduk rendah hati di hadapan misteri iman?

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran