St. Ignatius Loyola (7) : YERUSALEM: Ziarah Jalan Kaki Tanpa Bekal dan Teman

November 12, 2016

Pertobatan dan orientasi hidup baru Iñigo yang mulai terjadi di Loyola ditandai dorongan kuat untuk berziarah dengan berjalan kaki ke Yerusalem. Inilah peziarahan yang dalam tradisi kerohanian dikenal sebagai peziarahan untuk silih dosa atau penitensi (la peregrinación de la penitencia). Karena itu, pada tahap ini, Iñigo disebut sebagai peziarah peniten (peregrino penitente).

 

Selain menjadi sarana mendamba silih dosa, peziarahan macam ini menjadi penanda kesungguhan pertobatan. Peziarahan silih dosa ini diperkaya oleh pengalamannya selama sebelas bulan di Manresa. 
Pada saat yang sama, peziarahan ke Yerusalem ini juga menjadi kesempatan Iñigo untuk merasul yang ingin mendedikasikan seluruh hidupnya di Yerusalem untuk merasul.

 

Jejak peziarahan sebagai penitensi juga menyatu dengan motivasi oleh tiga keutamaan: cinta kasih, iman, dan pengharapan (Autob. 35). Iñigo berkeyakinan bahwa kalau membawa seorang teman, bila lapar ia akan mengharapkan bantuan dari teman itu dan kalau jatuh teman itu akan membantunya untuk bangun.

 

Kesungguhan dan tekad menjalani peziarahan dengan motivasi seperti ini membuatnya peka ketika merasa kurang mengandalkan kepercayaan kepada Tuhan. Pada saat itu, setelah menerima berkat dari Paus dan hendak meninggalkan Roma, ia mendapati dirinya masih membawa sedikit uang. Ia pun merasa terbebani dan meninggalkan uang tersebut, lalu meneruskan perjalanan tanpa bekal uang. Dia mengemis dan meminta makan. Iñigo menjadi peziarah pengemis dan merasa mendekati pribadi yang telah menginspirasi dirinya, yaitu St. Fransiskus Asisi yang ia kenal melalui bacaan rohani.

 

Lebih daripada itu, dari cara hidup seorang peziarah yang mengemis, lahir pula keutamaan-keutamaan, yaitu kerendahan hati, kasih, kesabaran, dan diskresi. Iñigo pun merasa makin peka terhadap rasa perasaan, pikiran, dan kecenderungan-kecenderungannya. Bisa dikatakan, bagi Iñigo, lakunya sebagai peziarah miskin didukung secara spiritual oleh keutamaan-keutamaan yang tumbuh seiring dengan peziarahannya, misalnya beragam tantangan alam dan sikap buruk orang-orang yang dijumpainya menjadi ruang tumbuh kerohanian dan keutamaan-keutamaannya.

Peziarahan dengan berjalan kaki, tanpa bekal, dan seorang diri menjadi saat bagi Iñigo untuk tumbuh dalam pengenalan diri yang lebih baik. Pedro de Ribadeneira SJ, penulis biografi lengkap dan detil St. Ignatius Loyola menuliskan demikian, “Iñigo meninggalkan Barcelona, tanpa teman bersamanya, selain Allah; dengan itu ia ingin bertemu diri sendiri, dan Iñigo begitu menikmati komunikasi batin tanpa keramaian dan tanpa gangguan teman-teman”. Itulah sebabnya Iñigo mengalami suka cita rohani luar biasa ketika tiba dan menginjakkan kaki di tanah suci.

 

Selain digerakkan oleh kasih yang menyala untuk mengikuti dan meneladan Yesus, Iñigo juga memiliki kerinduan seperti para peziarahan lainnya, yaitu membayangkan dengan perlahan serta penuh perasaan menjejakkan kaki di Yudea dan Galilea yang dilewati Yesus ribuan kali. Iñigo mengalami suka cita berupa devosi penuh gairah seorang peziarah.

 

Suka cita ini menemani perjalanannya berkunjung ke tempat-tempat suci.Pedro Ribadeneira mengatakan dalam bahasa penyelenggaraan ilahi: “Tuhan kita memenuhi yang menjadi keinginannya, dan tiba di Yerusalem”. Pengalaman ini disebutnya sebagai suka cita rohani yang mengisi jiwanya dan sulit digambarkan kecuali dirasakan dalam-dalam. Apalagi, pada waktu itu, ketika Iñigo tiba di Jafa, para peziarah mengidungkan Te Deum dan Salve.

 

Konsiderasi
Memperhatikan cara Iñigo menjalani peziarahan, atau lebih dikenal dengan peregrinasi, kita menjadi tahu bahwa ziarah atau peregrinasi dengan berjalan kaki, apalagi sendiri dan tanpa bekal, adalah sebentuk latihan rohani yang sangat besar manfaatnya.

 

Pada Iñigo pertama-tama hendak dilatihkan tiga keutamaan besar: kepercayaan akan Allah, kasih, dan pengharapan. Tetapi yang terjadi lebih daripada yang dirindukan dan dimohon. Karena ada sesuatu yang khas dari peziarahan, yaitu terjadinya pengalaman di luar rencana (unexpected experience) yang memperkaya Iñigo dan menumbuhkan semangat jiwa besar dan keterbukaan dalam menyikapi aneka peristiwa, situasi, dan pengalaman.

 

Peziarahan seperti ini meninggalkan pembelajaran tentang paradoks perjalanan kehidupan. Di satu sisi, kita mesti bertanggung jawab atas rancangan dan persiapan rencana kita. Di sisi lain, kita juga mesti terbuka terhadap sesuatu di luar rancangan itu, yang tidak jarang ternyata jauh bisa lebih indah, benar, dan bermakna.

 

Sudahkah kita merencanakan dan mempersiapkan perziarah hidup kita ini dengan baik dan bertanggung jawab? Sudahkah kita bersiap membuka hati untuk sesuatu di luar rancangan itu, yang tidak jarang ternyata jauh bisa lebih indah, benar, dan bermakna?

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran