St. Ignatius Loyola (8) : YERUSALEM: Apa yang Mesti Aku Buat?

November 20, 2016

Meninggalkan Yerusalem: Quid mihi agendum?

 

Ziarah Iñigo ke Yerusalem ditandai dengan rencana kuat untuk menetap di sana, tetapi berujung dengan kegagalan. Iñigo harus meninggalkan tempat yang diimpikannya. Iñigo, sang peziarah mengakhiri peziarahan ke Yerusalem dengan pertanyaan “Quid mihi agendum? (Apa yang mesti kubuat?)

 

Terhadap pertanyaan ini Iñigo menemukan jawaban yang diyakini sebagai kehendak Tuhan yang baru: belajar selama beberapa waktu supaya sesama lebih terbantu.

 

Keinginan kuat Iñigo untuk menetap di Yerusalem digerakkan oleh dua motivasi, yaitu devosi terhadap tempat-tempat tinggal Yesus serta semangat untuk merasul di sana. Namun demikian, penjaga Yerusalem, waktu itu para pastor Fransiskan, melarangnya atas kuasa Paus dengan alasan utama keselamatan dirinya. Iñigo sendiri dalam ziarah tersebut telah mengunjungi tempat-tempat suci dan mengalami peristiwa rohani, di dalamnya merasakan Tuhan yang menampakkan diri dan memberi banyak penghiburan rohani serta kekuatan (Autob. 44). Dua motivasi kuat untuk menetap di Yerusalem yang mengisi pikiran dan hatinya muncul sejak keberadaannya di Manresa.

 

Benar, bagi Iñigo, kunjungannya ke tempat-tempat suci itu membuahkan semangat, rasa perasaan, kedekatan, bau harum dari kasih tak terkira Yesus seperti sering dialami para peziarah Tanah Suci. Melalui kedekatan tempat-tempat suci itu Iñigo ingin mengalami sedekat mungkin kebersamaan dengan Yesus.

 

Adalah menarik bagaimana Iñigo bersikap terhadap kegagalan untuk menetap di Yerusalem. Dia memiliki keterbukaan untuk berpikir, mencari dan mengenali kehendak Allah yang baru. Kerinduan dekat dengan Tuhan dan merasul bersama-Nya tetap menyala, tetapi tidak harus terlaksana di Yerusalem.

 

Bagi Inígo, larangan tinggal tetap di Yerusalem justru menuntunnya untuk mengenal kehendak Allah yang berbeda dengan yang dia pikirkan dan inginkan. Inilah saat transformatif sebagai seorang peziarah, dari seorang peziarah seorang diri dimasukkan menjadi peziarah orang Gereja.

Inilah juga pengalaman awali Iñigo berkenaan dengan salah satu unsur penting identitasnya sebagai orang Gereja, man of the Church yang telah didahului oleh dua unsur identitasnya yang lain, man of God dan man of the Church.

 

Dengan meninggalkan Yerusalem, Iñigo menemukan dirinya sebagai peziarah yang mencari dan mendengarkan kehendak Allah. Semua ini pelan-pelan mengantar Iñigo bersama teman-temannya untuk berziarah memperbarui Gereja dari dalam melalui Serikat Yesus, ordo religius yang didirikannya dengan penanda khasnya ketaatan kepada Gereja dan Paus pimpinannya.

 

Setelah menerima kenyataan bahwa mesti meninggalkan Yerusalem, Iñigo berpikir dan bertanya: Quid mihi agendum? Apa yang mesti kubuat? Ia memutuskan untuk belajar dan dari Yerusalem Iñigo pergi ke Barcelona. Di kota ini ia mulai belajar bahasa Latin bersama anak-anak kecil.

 

Konsiderasi
Di dalam cara doa Ignatian, misalnya meditasi atau kontemplasi Ignatian, pada bagian pendahuluan seseorang diajak memohon rahmat. Artinya, orang yang merenungkan teks Kitab Suci atau misteri hidup Kristus merumuskan rahmat yang dimohon berdasarkan perikop Kitab Suci tersebut. Misalnya, dalam renungan tentang Penjelmaan, orang diajak mohon rahmat “Mengenal secara mendalam Allah yang telah menjadi manusia supaya dengan demikian semakin dapat mencintai dan mengikuti-Nya” (Latihan Rohani 104).

 

Permohonan ini berguna untuk mengarahkan kerinduan hati dan proses doa. Selain itu, cara doa ini dilengkapi dengan refleksi doa yang di dalamnya seseorang mencoba mengenali buah-buah doa dan bertanya tentang apa yang selanjutnya mesti dibuat. Inilah cara doa yang menuntun ke kesempurnaan doa, yaitu kasih dan kasih ini nyata lebih pada tindakan dan karya daripada kata-kata. Model doa ini menemukan inspirasinya dari kegagalan Iñigo untuk menetap di Yerusalem yang disikapi dengan pertanyaan Quid mihi agendum?
Diawali dengan rahmat yang kita rindukan (deep desires) berkenaan dengan aktivitas yang akan dijalani dan diakhiri dengan apa yang mesti dilakukan.

 

Begitulah bila dilatih dan dibiasakan terus menerus sampai pada padanan dan kesejajaran kesejajaran doa dan aktivitas sehari-hari sehingga, seperti akhirnya diajakkan oleh St. Ignatius, kita dibimbing untuk mengalami Tuhan tidak hanya dalam doa tetapi juga dalam aktivitas hidup. Iñigo mengalaminya dalam menyikapi kegagalannya untuk menetap di Yerusalem, yaitu menemukan kesadaran baru menjadi peziarah kehendak Allah di dalam Gereja-Nya. Diawali dengan studi.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran