St. Ignatius Loyola (9) : BARCELONA: Berhutang Budi kepada Penduduk

November 27, 2016

Setidaknya, Iñigo berada di Barcelona tiga kali. Pertama, ketika berziarah ke Yerusalem dan tinggal selama 20 hari (Autob. 37). Kedua, saat kembali dari Yerusalem dan berketetapan untuk belajar, tinggal selama 2 tahun dan belajar bahasa Latin bersama anak-anak kecil (Autob. 56). Ketiga, ketika dalam perjalanan menuju Paris dari Salamanca. Dari Barcelona, Iñigo berjalan ke Paris untuk studi filsafat dan teologi (Autob. 72).

 

Ketika berada di Venezia, Iñigo menulis surat kepada Jaime Cassador pada tanggal 12 Februari 1536. Jaime adalah salah satu donatur Iñigo ketika studi. Ia bekerja di keuskupan Barcelona dan kemudian diangkat menjadi Uskup Barcelona pada tanggal 16 Mei 1546. Surat Iñigo itu menyebut keinginan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan di Barcelona dan betapa Barcelona sangat istimewa bagi perjalanan hidup Iñigo. “Karena menurut saya, dan saya tidak ragu, betapa saya berutang kebaikan kepada penduduk Barcelona, melebihi kepada penduduk tempat lain dalam hidup saya” (Jaime Cassador, Venezia, 12 Februari 1536).

 

Bagi Iñigo, Barcelona kota yang tak terlupakan. Di kota ini, ia mulai membangun persahabatan dalam kegiatan rasuli pada hari-hari menjelang keberangkatannya ziarah ke Yerusalem maupun sesudah kembali, ketika studi. Pertama kalinya Iñigo berada di Barcelona sebagai seorang peziarah yang sedang tumbuh dengan pengalaman-pengalaman rohani yang baru, dari Loyola, Montserrat dan Manresa. Identitasnya adalah seorang peziarah Yerusalem.

 

Setelah berziarah ke Yerusalem dan ada kepastian tidak bisa menetap di sana, Barcelona menjadi tempat memulai langkah konkret membekali diri untuk merasul, yaitu dengan belajar bahasa Latin gratis bersama anak-anak kecil dibawah tutor Magister Ardevol.

 

Selama dua tahun Iñigo belajar bahasa Latin di Barcelona dan untuk menopang hidup kesehariannya Iñigo dibantu oleh Isabel Roser dan Inés Pascual. Isabel Roser menganjurkan untuk tinggal di rumah keluarga Inés Pascual. Sementara dia sendiri membantunya dalam keperluan sehari-hari termasuk memperkenalkannya kepada Magister Ardevol, guru Latin. Selain itu Iñigo masih juga mengemis di gereja San Maria del Mar.

 

Dorongan “membantu jiwa-jiwa” yang tumbuh di Manresa dan diteguhkan di Yerusalem serta didukung dengan tindakan konkret belajar memberi Iñigo kepastian arah baru. Iñigo belajar Latin bersama anak-anak, tetapi sebagai orang yang sudah umur kemungkinan besar juga menyerap inspirasi lulista (Ramon Llull) karena Magister Ardevol ketika itu juga menjadi anggota Academia humanista di Barcelona.

 

Pengalaman Iñigo dua tahun berada di rumah keluarga Inés Pascual bisa menjadi petunjuk bagaimana membangun dan merawat persahabatan. Iñigo pertama kalinya bertemu dengan Inés Pascual dalam perjalanan dari Montserrat ke Manresa. Di kota kecil ini, Inés Pascual menjadi salah satu dari “Iñigas” atau “Iñiguistas” dan selanjutnya menjadi donatur. Cukup sering kaum perempuan “Iñigas” atau “Iñiguistas” disebut sebagai sahabat-sahabat pertama Ignatius.

 

Selama dua tahun di Barcelona, Iñigo juga membimbing dan menyemangati para wanita untuk menjalankan karya amal kasih. Setelah itu muncul anak-anak muda Calixto de Sa, Lopez de Carceres serta Juan de Arteaga yang menjadi sahabat dan pengikutnya. Dalam sejarah lahirnya kelompok, mereka itu disebut sebagai kelompok pertama, meskipun akhirnya tidak berhasil menjadi kelompok inti Iñigo yang melahirkan Serikat Yesus.

 

Konsiderasi
Mencermati keberadaan Iñigo di Barcelona kita menemukan warisan rohani berharga membangun persahabatan. Artinya, secara sadar mencarinya dan secara tanggung jawab serta penuh syukur merawatnya. Dalam persahabatan itu, secara jujur Iñigo merasakan sebagai pribadi yang berutang kebaikan, yang ia balas dengan pemberian diri seluruh hidupnya untuk merasul.

 

Pada zaman ini semangat merawat persahabatan dan kerja sama biasa disebut networking atau partnering with companions. Pada zaman ini begitu berlimpah fasilitas untuk ini. Boleh jadi yang bisa disumbangkan dari inspirasi Iñigo adalah isi dan orientasi networking atau partnering tersebut. Jejak Iñigo di Barcelona meninggalkan isi persahabatan, yaitu corak kerohanian rasuli yang merupakan wujud penghayatan iman untuk mengusahakan keselamatan jiwa sesama, kesejahteraan jiwa raga.

 

Iñigo mengawali usaha merawat persahabatan di Barcelona dan terus mengembangkannya dan terbukti nyata pada zamannya ketika salah satu dari sahabatnya St. Fransiskus Xaverius menjadi rasul di bumi bangsa kita. Sahabatnya yang lain merasul dengan menjelajah bumi Eropa, St. Petrus Faber.

 

St. Ignatius Loyola, doakanlah kami. 
St. Fransiskus Xaverius, doakanlah kami. 
St. Petrus Faber, doakanlah kami.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran