St. Ignatius Loyola (10) : ALCALA: Belajar dalam Penjara

December 4, 2016

Setelah dua tahun belajar bahasa Latin di Barcelona, Iñigo meneruskan studinya ke Universitas Alcalá. Ia berjalan kaki, menempuh jarak hampir 600 km dari Barcelona ke Alcalá. Di kota ini Iñigo tinggal lebih dari setahun, tepatnya dari masa pra-paskah 1526 hingga 21 Juni 1527 (Autob. 57).

 

Di sini, Iñigo mengemis dari pintu ke pintu untuk menopang hidupnya. Selain studi, Iñigo juga mulai memberikan pelajaran agama. Beruntunglah, pada malam hari, ia mendapat tempat tinggal di Hospital Antezana, Alcalá, tempat penampungan orang-orang miskin.

 

Ternyata banyak orang yang mendengarkan pendatang baru di Universitas Alcalá itu. Tetapi justru inilah yang selanjutnya menimbulkan permasalahan baru. Iñigo mesti berhadapan dengan Inquisisi, penjaga kebenaran ajaran Gereja dengan kuasa pemeriksaan dan pengadilannya.

 

Begitulah, yang semula bermaksud studi, Iñigo malah mesti diadili dan bahkan di penjara. Ia dibawa ke pengadilan terkait kecurigaan tentang ajaran dan wewenang mengajarnya mengingat ia belum belajar teologi. Kegiatan Iñigo memang tampak mencolok dengan ikut sertanya tiga orang pemuda yang dikenalnya sejak di Barcelona, yaitu Juan de Arteaga, Lope de Cáceres dan Calixta de Sa. Tentang hal ini, Fernando Rubi, seorang fransiskan menulis: 
“Orang-orang muda berkeliaran di kota ini, dengan mengenakan pakaian abu-abu hingga mata kaki, beberapa di antara mereka telanjang kaki dan menyatakan bahwa mereka menghayati suatu kehidupan yang menyerupai kehidupan para rasul” (Cándido de Dalmases, S. J., Ignatius Loyola, Pendiri Serikat Yesus, 2009, hlm. 96).

 

Iñigo dan kawan-kawannya pun dilarang mengenakan seragam karena bukan rohaniwan. Meskipun mendapat catatan dari otoritas Gereja, tetap saja banyak orang datang. Mereka datang dari berbagai kalangan. Iñigo mengajarkan olah batin, ajaran Kristiani dan menjelaskan dosa-dosa besar, panca indera, tiga daya jiwa (ingatan, budi, dan kehendak). Semua ia jelaskan dengan amat baik dan dilengkapi dengan kutipan Injil, St. Paulus maupun para kudus. Dilatihkan juga pemeriksaan batin, anjuran mengaku dosa, dan menyambut Ekaristi. Tujuan dari semua itu adalah ajakan memperbarui hidup dengan berdoa sesuai kemampuan masing-masing.

 

Empat bulan sesudah kedatangannya, Iñigo ditangkap polisi dan dipenjarakan, tepat pada hari Kamis Putih atau Jumat Agung tahun 1527. Hanya saja, di penjara tetap saja banyak orang yang mengunjunginya dan Iñigo pun tetap menjalankan kegiatan merasulnya. Ketika ada yang mau membela dan memberi bantuan untuk membebaskannya, Iñígo menolak dan berkata: “Dia yang kepentingan-Nya aku bela sehingga aku masuk tempat ini, akan mengeluarkan aku juga dari tempat ini, jika memang hal itu bermanfaat demi pengabdian kepada-Nya”.

 

Rencana Iñigo studi di Alcala yang berujung pengalaman dipenjara atas kecurigaan Inquisisi mengingat pada waktu itu ada gerakan-gerakan kerohanian yang tidak sehat; misalnya alumbrados, kelompok yang merasa mendapat penerangan langsung dari Roh Kudus dan tidak membutuhkan sarana-sarana dari Gereja seperti pelayanan sakramen.

 

Peristiwa Iñigo dipenjara karena karena kegiatan kerasulannya mengingatkan kita bagaimana dulu Iñigo juga pernah terpenjara oleh impian kemuliaan duniawinya. Di Loyola, keterpenjaraan itu diatasi oleh dambaan-dambaan suci. Selanjutnya, ada pengalaman luar biasa di Manresa dan Cardoner serta kepastian rencana baru sekembali dari Yerusalem. Artinya, pengalaman di penjara menjadi bagian dari perjalanan peziarahannya.

 

Identitas Iñigo yang dibentuk oleh perjalanan peziarahannya pun memperlihatkan dinamika gerak perubahannya; dari orientasi kemuliaan duniawi (la vana golora) ke kemulian surgawi Tuhan Allah (la gloria de Dios). Ditandai juga oleh gerak dari kesempurnaan diri ke kerohanian rasuli, membantu jiwa-jiwa (ayudar a las almas), juga perubahan gerak dari mengandalkan pertimbangan diri sendiri ke kerelaan diuji oleh otoritas Gerejawi.

 

Karena itu, ketika berhadapan dengan otoritas Gereja yang memberi beberapa larangan menyangkut ajaran dan wewenang mengajar, Iñigo tidak merasa dihalangi semangat merasulnya tetapi merasa diingatkan akan konteks Gereja saat itu dan merasa semakin dimasukkan di dalam ibu Gereja.

Iñigo adalah peziarah di dalam Gereja dan pembaru dari dalam. Akhirnya, bagi Iñígo, proses penyelidikan dan pengadilan merupakan bentuk lain dari objektivasi pengalaman rohani dan semangat merasulnya.

 

Konsiderasi
Begitulah Iñigo menemukan saat rahmat ketika studi di Alcalá. Pada akhirnya, studi yang tidak membawa banyak hasil memberi pembelajaran hidup yang berharga. Berada di dalam penjara menjadi saat rahmat yang penting untuk perjalanan Iñigo selanjutnya.

 

Kita kenali di sini adanya kecerdasan rohani yang memungkinkan Iñigo tidak kehilangan harapan dan cengeng menghadapi tantangan dan kesulitan, melainkan mengubahnya menjadi saat rahmat.

“Tuhan, bila kami lumpuh oleh berbagai macam kesulitan dan tantangan karena mengikuti-Mu, ingatkan kami akan Iñigo, sang peziarah yang telah Engkau anugerahi kecerdasan rohani untuk belajar mengenali bagaimana Engkau mendidiknya. Berilah kami jiwa besar dan kerendahan hati serta semangat belajar seperti Iñigo belajar dalam penjara Alcalá. Amin”.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran