St. Ignatius Loyola (11) : SALAMANCA: Meletakkan Masa Depan di Tangan Tuhan

December 11, 2016

Dari Alcalá Iñigo berjalan menuju kota Salamanca dengan maksud mau studi. Tetapi yang terjadi adalah tinggal selama dua bulan dengan 22 hari berada di penjara. Iñigo kembali menghadapi persoalan berkenaan dengan kegiatan rasulinya, yaitu percakapan dengan orang-orang Salamanca mengenai hal-hal rohani.

 

Pengadilan menetapkan keputusan yang melarang Iñigo berbicara mengenai dosa besar dan dosa kecil sebelum menyelesaikan studi. 
Beberapa dari dominikan di kota ini adalah para teolog berpengaruh dan mereka curiga dan ingin tahu hal yang sebenarnya dilakukan Iñigo (Autob. 65). Iñigo dilarang berkhotbah karena belum studi teologi.

 

Ia pun membela diri dengan mengatakan bahwa yang dilakukan hanyalah sekedar berbicara akrab mengenai perkara-perkara Allah setelah makan dengan beberapa orang. Umumnya, mengenai keutamaan dan cacat-cacat. Itu pun, menurut seorang biarawan dominikan, hanya bisa dilaksanakan oleh mereka yang sudah studi atau memiliki anugerah Roh Kudus.

 

Akhirnya, seperti di Alcalá, kegiatan Iñigo membawa dirinya untuk diadili dan dipenjara. Pemeriksaan dan pengadilan dilaksanakan setelah Iñigo tinggal selama tiga hari di Biara San Esteban (St. Stefanus). Iñigo ditempatkan di penjara umum, tetapi dipisahkan dari para penjahat. Bersama temannya tetap diborgol.

 

Rantai pemborol menyatu dengan bagian tengah ruangan. Untuk bergerak dan menjalankan hal yang diperlukan, satu sama lain bekerjasama. Di penjara itu juga, banyak orang mengirim apa yang diperlukan dan berlimpah. Iñigo mengalami kebaikan dan kemurahan hati banyak orang yang mengunjunginya. Ia pun bergembira dan menolak kemungkinan dibebaskan (Autob. 69).

 

Proses penyelidikan dan pengadilan tidak menemukan hal yang salah dari cara hidup Iñigo dan aktivitas kerasulannya. Ketika Kardinal dari Burgos, D. Francisco de Mendosa mengunjungi dan bertanya alasannya dipenjara, Iñigo malahan mengatakan bahwa tidak ada jeruji penjara atau rantai borgol yang lebih diinginkan demi Allah daripada yang terjadi di Salamanca (Autob. 69). Artinya, demi Allah yang diabdi, Iñigo siap menanggung lebih daripada yang sedang dijalani.

 

Selain pengadilan dan penjara, perjumpaan dengan para dominikan juga membuat Iñigo untuk pertama kalinya menunjukkan buku Latihan Rohani. Buku ini ditunjukkan di hadapan empat pengadil yang berwenang memeriksanya. Mereka pun melihat Latihan Rohani dan bertanya banyak hal, termasuk mengenai teologi Trinitas dan sakramen-sakramen. Mereka pun tahu bahwa Iñigo benar-benar mengetahui apa yang dibuatnya dan tidak ada kesalahan. Demikian dipastikan bahwa Iñigo tidak memiliki kesalahan di seputar hidup dan ajarannya, kecuali bahwa dia belum studi.

 

Di satu sisi memang pengalaman tersebut membuatnya pesimis untuk membantu jiwa-jiwa, tetapi di sisi lain, berbekal kecerdasan rohaninya yang terbentuk dan kuatnya dorongan membantu jiwa-jiwa, Iñigo menemukan motivasi kuat dan keputusan teguh untuk pergi studi di Paris.

Dengan semua itu, di Salamanca kasih akan Allah dimurnikan dan terbukti lebih kuat daripada jeruji penjara dan rantai borgol pengikat tangan dan kaki tahanan. Iñigo mengalami lagi keutamaan yang dimohon sejak awal peziarahannya ke Yerusalem: kepercayaan akan Allah dan penyelenggaraan ilahi.

 

KONSIDERASI
Seringkali keberadaan Iñigo di Salamanca dipahami secara sempit sebagai perjumpaan dengan dominikan. Boleh jadi karena di Salamanca, Iñigo berada di biara dominikan San Estaban dan diadili oleh otoritas Gereja yang sebagian adalah para domunikan.

 

Ketika itu, Salamanca menjadi pusat dominikan dengan para teolognya. Francisco de Vitoria, tokoh penting lahirnya hak asasi manusia pun ada di tempat ini. Tetapi sejatinya, Iñigo mengalami persoalan dengan otoritas Gerejawi seperti telah terjadi sebelumnya di Yerusalem dan Alcalá. Catatan kerohaniannya pun, yang kemudian menjadi warisan terkenal, buku Latihan Rohani, diperiksa kebenarannya.

 

Di Salamanca ini, Iñigo benar-benar merasakan kesulitan sehingga merasa baginya pintu melayani jiwa-jiwa tertutup sudah. Akhirnya, seperti dicatat dalam Autobiografi, “Ia meletakkan nasibnya di hadapan Allah” (Autob. 70).

Sikap meletakkan masa depan di tangan Tuhan itu disertai pertanyaan yang menuntun dan menuntut dirinya: Quid mihi agendum? Apa yang mesti kubuat? Dari sikap rohani demikian ini serta usaha pribadi demikian itulah lahir maksim Ignatian: berusahalah sekuat usaha seakan-akan semuanya tergantung kepada Allah dan percayakan semuanya kepada Allah seakan-akan semuanya tergantung pada usahamu sendiri.

 

Inilah sikap mengandalkan Tuhan yang memacu usaha dan kreativitas seorang manusia atau usaha sungguh-sungguh seorang manusia beriman dengan keterbukaan terhadap Penyelenggaraan Ilahi.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran