St. Ignatius Loyola (12) : PARIS: Kelompok Ignatius yang melahirkan Serikat Jesus

December 18, 2016

Iñigo berada di Paris selama tujuh tahun. Di kota ini, ia studi dan mencari sahabat yang akhirnya melahirkan Serikat Jesus. Di Paris ini, nama Iñigo pun berubah; tepatnya dalam catatan adminstrasi Universitas nama Iñigo berganti menjadi Ignatius. Ignatius dan para mahasiswa Paris yang menjadi sahabatnya pelan-pelan berproses menjadi kelompok para sahabat dalam Tuhan dengan visi rasuli, membantu sesama. Mereka sering bertemu, bercakap-cakap, berbagi uang dan makanan, berbagi kemampuan studi serta membicarakan rencana masa depan. Karena itu, dalam catatan sejarah Serikat Jesus cara kelompok yang persahabatannya ditandai oleh kebersamaan rohani dan bertekun dalam studi menjadi dasar yang kokoh kesatuan mereka.

 

Ignatius tiba di Paris pada tanggal 2 Februari 1528. Datang berjalan kaki, pincang, dari Barcelona menuju Paris. Akhirnya tiba dengan selamat; suasana perang dan cuaca musim dingin tahun itu dilaluinya. Selama di Paris Ignatius studi humaniora di Montaigu. Selanjutnya Ignatius studi filsafat sampai memperoleh gelar master dan akhirnya studi teologi. Studi teologinya terpotong karena pada tahun 1535 Ignatius kembali ke Spanyol. Dia meneruskannya di Venesia.

 

Ketika tiba di Paris Ignatius tinggal di hospital Santo Yakobus, tempat penginapan yang dibangun di tepi jalan untuk membantu orang-orang yang pergi berziarah ke Santiago Compostela. Untuk studi humaniora Ignatius memilih kolese Montaigu karena kolese tersebut dikenal memiliki tuntutan keras: kerja serius, disiplin tinggi, metodis, berjenjang seturut usia dan kemajuan studi, serta banyak latihan dengan gagasan-gagasan jelas. Tetapi karena jarak antara tempat tinggal dan kolese cukup jauh, kemudian Ignatius pindah ke Santa Barbara. Di tempat inilah Ignatius bertemu dengan Petrus Faber dan Fransiskus Xaverius. Mereka menjadi tiga yang pertama dari Serikat Jesus.

 

Paris pada waktu itu terkenal karena iklim intelektual dan bertemunya kaum intelektual Eropa. Ketika itu ada sekitar 4.000 mahasiswa yang tinggal di banyak kolese. Kolese Montaigu dan Santa Barbara termasuk dua kolese penting pada waktu itu. Universitas Paris sendiri merupakan korporasi dari kolese-kolese mandiri. Fakultas-fakultas yang ternama waktu itu adalah hukum, kedokteran, filsafat dan teologi.

 

Persahabatan, studi yang dijalani dan iklim akademis Paris mempengaruhi hidup dan kerohanian Ignatius. Di Paris ini pula Ignatius mulai bertemu kaum humanis, yang selanjutnya dalam sejarah dibedakan antara humanis kristiani dan humanis sekular. Bila sebelum sampai Paris kerohanian Ignatius dibentuk dan diberi hidup oleh tradisi Devotio Moderna terutama utamanya oleh buku Mengikuti Jejak Kristus, corak kerohanian yang selanjutnya muncul dari Ignatius dan diwariskan kepada kita ditandai oleh pengetahuan serta dorongan merasul.

 

Pengalaman studi di Paris menjauhkan dari kekurangan yang ada pada tradisi Devotio Moderna dan melengkapinya. Muncullah Ignatius sebagai pribadi, yang di satu sisi memiliki pengalaman rohani mendalam dan solid, di sisi lain sanggup untuk melibatkan diri dalam tantangan dunia. Pengalaman di Paris bagi Ignatius melengkapi dan memperkaya yang kurang dari tradisi Devotio Moderna.

Konsep hidup religius menyepi, menarik diri dari dunia (fuga mundi), dan tenang diganti dengan dorongan rasuli yang kuat, yang ditopang oleh oleh kontak terus-menerus dengan Allah. Kedalaman hidup yang terkesan individualitis pun disempurnakan dengan ketaatan dan pelayanan kepada Gereja. Sementara takut dan curiga terhadap ilmu pengetahuan, disikapi dengan menyucikan ilmu-ilmu tersebut serta memberikan diri disucikan oleh ilmu pengetahuan serta meluruskannya demi kemuliaan Allah.

 

KONSIDERASI
Persahabatan para mahasiswa yang ditandai oleh studi, percakapan rohani serta rancangan masa depan menjadi cikal bakal kelahiran Serikat Jesus. Ignatius sendiri dalam mencari sahabat mengenakan pendekatan yang kemudian dikenal dengan cura personalis ; artinya memperhatikan situasi masing-masing orang.

 

Persahabatan rohani yang tumbuh dan semangat merasul yang terbentuk bukanlah melulu sebuah kesalehan belaka karena tumbuh di lingkungan universitas. Ada warna ilmu dan keutamaan yang terbentuk karena orang-orang bertekun dalam studi. Persahabatan, hidup rohani serta cita-cita rasuli Ignatius dan para sahabatnya mendapat dukungan ilmu. Singkatnya, kelompok Ignatius di Paris yang melahirkan Serikat ini memiliki integritas kerohanian yang didukung oleh keutamaan-keutamaan (las virtudes) dan ilmu pengetahuan (las letras).

 

Dari poin ini kita pun bisa sedikit bertanya mengoreksi kerohanian kita: bagaimana atau seperti apa corak kerohanianku? Apakah ada dukungan keutuhan keutamaan dan ilmu. Karena, keutamaan tanpa ilmu membuat kita mudah tertipu. Sementara ilmu tanpa keutamaan bisa membahayakan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran