Percaya Tanpa Bersyukur?

December 23, 2016

Penyakit kusta itu mengerikan. Karena kusta, orang tersingkirkan dari martabat dan kehormatannya. Itulah yang menimpa Naaman, panglima Raja Aram. Semula, ia menolak ketika Nabi Elisa memintanya menceburkan diri tujuh kali di Sungai Yordan. Tetapi, atas desakan hamba-hambanya, ia melakukannya dan menjadi sembuh. Ia pun bersyukur.

 

Karena syukurnya itu, ia mau mengakui bahwa tiada allah lain, selain Allah orang Israel dan berjanji tidak mempersembahkan korban bakaran dan sembelihan lagi kepada Allah orang Israel. Sebagai tanda untuk semua itu, ia membawa pulang tanah Israel, yang banyaknya semuatan sepasang bagal (2Raj 5). Pada kisah Naaman ini, kita melihat, iman itu tak bisa dilepaskan dari rasa syukur. Justru dalam rasa syukur itu tampak bahwa orang sungguh berterima kasih atas imannya.

 

 

 

Dalam Injil Lukas 17: 11-19 diceritakan sepuluh orang kusta memohon kepada Yesus untuk disembuhkan, “Yesus, Guru kasihanilah kami.” Yesus pun menyembuhkan kesepuluh orang itu. Tetapi, dari kesepuluhnya, hanya satu orang yang kembali dengan tersungkur di kaki Yesus dan memuliakan Allah. Orang itu adalah orang Samaria. Yesus pun bertanya, “Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”

 

 

Kiranya pertanyaan ini terkena pada kita juga. Kita sering memohon kepada Yesus, karena kita percaya kepada-Nya. Akan tetapi, ketika sudah dikabulkan, kita lupa bersyukur dan memuliakan Allah. Kita hanya percaya tanpa bersyukur. Kalau demikian, sungguhkan kita memang percaya kepada-Nya? Tidakkah iman itu sendiri seharusnya membuat kita bersyukur?

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran