Menjadi Saksi Masa Depan

December 24, 2016

Tahun baru selalu mengajak kita untuk merencanakan sesuatu yang baru. Betapa pun pada tahun sebelumnya kita kecewa karena gagal mewujudkan aneka rencana, pada tahun baru kita selalu berniat lagi untuk sungguh-sungguh mencapai cita-cita. Kita pikirkan persiapannya, jalan yang mesti ditempuh, dan menetapkan tujuannya. Tak hanya itu, kita perhitungkan juga halangan dan krisis yang mungkin mesti dihadapi.

 

 

 

Memang, tahun baru menyediakan kesempatan itu. Masa depan adalah sebuah pengertian dan pegangan iman Kristiani. Kata Uskup Agung Oskar Saier, orang Kristen adalah saksi untuk apa yang akan datang.

 

Terdengar seperti paradoks. Dalam kalimat lain, orang Kristen adalah saksi bagi Tuhan yang telah menyelematkan kita. Tapi, bagaimana mungkin kita menjadi saksi bagi Tuhan yang masih kita nantikan dan akan mewujudkan harapan kita? Apakah semua yang kita nantikan dan harapkan akan sungguh terjadi?

 

Menurut Uskup Oskar Saier, sebagai orang Kristen, kita sering harus menderita demi yang kita nantikan. Terwujud tidaknya penantian itu, orang Kristen adalah saksi dari penantiannya. Oleh karena itulah, hidup orang Kristen mau tidak mau bersifat profetis.

 

Mengenai hal ini, penulis rohani Klemens Armbruster mengetengahkan kisah Madeleine Delbrel (1904-1964), seorang perempuan Prancis yang menjalankan hidup wadat. Bagi Delbrel, hidup orang Kristen itu bagaikan pohon yang akarnya bukan di tanah tetapi di langit, di surga. Bukankah kita berdoa, “Bapa kami yang ada di surga”? Karena itulah kita mesti meletakkan akar hidup kita di surga. Dari “Kerajaan Allah Bapa kami di surga” itulah kita memperoleh akar hidup dan menimba kekuatan kita. Kekuatan itu adalah anugerah dari surga yang kita butuhkan untuk melakukan tugas hidup di dunia ini.

 

Senada dengan itu, Rasul Paulus berkata, “Kewargaan kita adalah di dalam surga, dna dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat yang akan mengubah tubuh kita yang hina sehingga menyerupai tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” (Fil 3: 20-21)

 

Penantian akan Kristus yang akan datang itu adalah harta dan warisan iman kita. Karena itu, dalam perayaan Ekaristi kita menyahut ajakan perayaan iman, “Wafat-Mu, Tuhan, kami maklumkan, kebangkitan-Mu kami agungkan, sampai Kau datang lagi dalam kemuliaan.”

 

Sebagai orang Kristen, kita memang sedang menanti kedatangan kembali Kristus dalam kemuliaan-Nya. Yesus sendiri senantiasa mengajak kita untuk berjaga-jaga menanti kedatangan itu. Hal ini digambarkan dalam perumpamaan tentang lima perawan bijak dan lima perawan bodoh yang sedang menantikan kedatangan pengantin. “Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu akan hari maupun jamnya.” (Mat 25: 13)

Dalam Gereja Katolik, sikap berjaga-jaga ini diwujudkan secara khusus oleh mereka yang melakukan hidup wadat atau selibat, seperti para imam, biarawan, dan biarawati. Dengan caranya sendiri, Madeleine Delbrel menerangkan, selibat itu berasal dari dua kata Latin, coelis (surga) dan ibat (berjalan pergi). Maka coel-ibat artinya dia yang sedang dalam perjalanan ke surga untuk menjumpai Dia, yang akan datang dari sana”. Singkat kata, hidup selibat itu dijalani demi Dia yang akan datang.

 

Sikap ini sebenarnya tidak terbatas pada imam, biarawan, biarawati. Madeleine Delbrel sendiri bukanlah biarawati. Ia hidup sebagai awam biasa, yang bekerja secara biasa juga. Kalau ia memilih tidka menikah, karena ia ingin menunjukkan “cara hidupnya” itu sebagai kesaksian bagi penantian dan imannya akan Dia yang akan datang dan menemani kita: Dia adalah Tuhan yang diingkari oleh teman-teman sezamannya yang ateis dan hidup sangat sekuler di Prancis.

 

Jadi kita semua, kaum awam biasa ini, juga diundang untuk menjadi “saksi bagi sebuah masa depan”, “saksi yang hidup demi dan karena harapan di masa depan”. Maka, iman Kristiani bukanlah iman yang mau percaya karena sudah ada yang pasti kita pegang pada masa sekarang, ketika kita bisa hidup dengan sentosa, mapan, dan aman. Sebaliknya, iman Kristiani adalah “berpegang pada apa yang diharapkan dan dinantikan”. Kepastian dan jaminan kita bukan kepastian zaman sekarang, tetapi Tuhan yang selalu mengajak kita untuk berubah demi masa depan yang kita nantikan.

 

Itulah sesungguhnya sikap yang telah ditunjukkan oleh bapa iman kita, Abraham. Atas dasar dan karena imannya, Abraham mau mendengarkan dan taat pada panggilan Tuhan. Ia meninggalkan segala kepastiannya untuk pergi ke tempat baru. Ia mau melakukan itu karena percaya, kelak Tuhan sendiri yang akan membangun hidupnya, lingkungannya, dan kesejahteraannya.

 

Bagi orang Kristen, tahun baru adalah saat kita harus menghayati iman seperti Abraham dan memohon agar kita bisa menjadi “saksi bagi masa depan” yang direncanakan Allah bagi hidup dan lingkungan kita. Dengan tahun baru, kita semakin ingin agar Tuhan sendiri yang menjadi pondasi dan satu-satunya pijakan hidup kita di tahun-tahun mendatang.

 

Kita tidak usah takut dan khawatir melangkah ke depan, karena Tuhan sendiri yang menjadi penjamin perjalanan kita ke depan, kendati segala ketidakpastian dan ketiadaan jaminan sedang kita alami.

 

Kita tidak perlu memikirkan langkah-langkah besar. Cukuplah kita membuat langkah-langkah kecil, asal kita percaya bahwa Tuhan yang akan datang selalu menemani kita. Oleh karena itu, kita pun dengan gembira bersedia adlam pekerjaan dan hidup kita sekarang ini, serta selalu mencoba untuk menjadi saksi bagi masa depan, yaitu menanti Tuhan “sampai Ia datang lagi dalam kemuliaan-Nya.”

  

 

 

  

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran