St. Ignatius Loyola (14) : ROMA: Menemukan Tuhan dalam segala

January 1, 2017

Di Roma, St. Ignatius Loyola adalah pemimpin umum Serikat Yesus, ordo religius baru pada zamannya. Ordo ini didirikan bersama teman-temannya atas persetujuan Paus pada tahun 1540 dengan tujuan membantu keselamatan jiwa-jiwa.

 

Para anggota Serikat ini dibentuk dengan pengalaman dasar Latihan Rohani, atau lebih dikenal dengan retret 30 hari. Inilah retret agung yang membimbing orang untuk mengalami dan merasakan secara mendalam rahmat Tuhan yang menyelamatkan sehingga bisa semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Tuhan Allah.

 

Pengalaman retret agung ini pula yang akhirnya membimbing St. Ignatius, ketika berada di Roma, mengalami kematangan hidup rohaninya yang ditandai dengan rahmat kemudahan untuk “menemukan Tuhan dalam segala”.

 

Dalam perjalanan menuju kota Roma, kira-kira 15 km sebelum mencapai tujuan, St. Ignatius bersama Petrus Faber dan Diego Laínez, berhenti sejenak di sebuah kapel kecil La Storta. Di kapel inilah St. Ignatius mengalami penampakan Kristus Tuhan yang sedang memanggul salib di pundak-Nya.

Di dengarnya dari Allah Bapa yang berada di dekat Yesus kata-kata ini: “Aku ingin Engkau memilih orang ini menjadi pelayan-Mu”. Dan Yesus pun, dalam penampakan tersebut, menerima St. Ignatius dengan berkata: “Aku mau engkau melayani kami”.

 

Penampakan ini memberi peneguhan bahwa St. Ignatius dan teman-temannya memiliki satu-satunya pemimpin, yaitu Yesus sendiri dan semangat rohaninya adalah melayani Tuhan yang terus memanggul salib-Nya di dunia. Inilah visiun La Storta yang sering disebut sebagai mistik pelayanan dan menandai hidup, karya, dan cara bertindak ordo Serikat Yesus.

 

Rahmat istimewa, mistik pelayanan, dan posisi berada di samping Yesus yang memanggul salib diperuntukkan bagi teman-teman St. Ignatius serta setiap orang yang ingin menjadi pengikut Tuhan melalui Serikat Yesus.

 

MENEMUKAN TUHAN DALAM SEGALA 
Puncak kematangan rohani St. Ignatius ditandai dengan kemudahan “menemukan Tuhan dalam segala”. Anugerah ini merupakan muara dari pembiasaan yang mulai dilakukan pada awal pertobatannya di Loyola, yaitu mencermati gerak-gerak batin sehingga bisa mengenali roh apa yang sedang mengarahkan dirinya.

 

St. Ignatius terus berkembang sedemikian rupa, sehingga di Roma kita menemukan kematangan rohaninya: mudah untuk menemukan Tuhan. Autobiografi mencatat: “Malah ia selalu berkembang dalam devosi, maksudnya makin mudah menemukan Allah, dan sekarang lebih daripada kapan juga dalam seluruh hidupnya. Setiap kali, setiap waktu, ia mau menemukan Allah, ia dapat menemukan-Nya” (Autob. 99, 7-8).

 

MEMIMPIN DENGAN HUKUM BATIN (ars gubernandi)
Di Roma, sebagai seorang pemimpin umun Serikat, St. Ignatius menjalankan kuasa kepemimpinannya dengan kebijaksanaan hukum batin, yaitu melayani Serikat dan para anggotanya dalam semangat doa (orante), berdasarkan buah-buah pertimbangan yang matang diskresinya (discernido) serta diterangi oleh nasihat-nasihat orang-orang sekitar (iluminado por el consejo).

 

Inilah seni memimpin- melayani (ars gubernandi) yang diwariskan St. Ignatius kepada Serikat Yesus dan banyak orang. Dalam cara memimpin dengan hukum batin seperti ini ditangani dan diperhatikan para anggota Serikat Jesus (cura personalis) dan karya-karya pelayanan Serikat Yesus (cura apostolica) serta dipelihara kesatuan para sahabat dalam Tuhan (los amigos en el Señor).

 

Di Roma pula disusunnya pedoman hidup bersama para anggota Serikat Yesus (Konstitusi). Penyusunan Konstitusi ini merupakan salah satu dari rahmat yang dirindukan dan dimohon St. Ignatius sebelum wafatnya. Dua rahmat yang lain adalah disahkan secara resmi lahirnya Serikat Yesus dan Latihan Rohani sebagai sarana pembinaan rohani Gereja. Ketiganya dikabulkan dan memberi ketenangan St. Ignatius sebelum mengakhiri peziarahannya di bumi ini.

 

KEMATIAN DI TANGAN Tuhan
Akhirnya, pada hari itu, menjelang petang, St. Ignatius makan malam seperti biasa bersama teman-temannya. Sempat berdiskusi panjang tentang beberapa hal mengenai pembelian rumah dari Giulia Collona yang akan digunakan untuk mendirikan kolese Roma (sekarang Universitas Gregoriana). Setelah mereka yang biasa menangi urusan-urusan rumah tangga pergi, orang-orang tidak lagi memperhatikan kondisi St. Ignatius. Dan memang tidak merasa ada yang aneh. Mereka pun tidur.

Menjelang fajar, tanggal 31 Juli 1556, seperti biasa, seseorang masuk kamar St. Ignatius. Pada saat itu, ia memperhatikan napas St. Ignatius menipis. Kemudian, Polanco, sekretarisnya lari pergi untuk memohon berkat Paus. Tetapi sebelum kembali, St. Ignatius telah mendahului pergi menghadap Tuhan. Rasanya, St. Ignatius sendiri tahu bahwa kematiannya sudah di tangan; kematian yang diharapkan dari Allah. Kalau malam itu tidak meminta siapa pun semalaman menjaganya, boleh jadi karena ia ingin melewatkan malam terakhirnya bersama Tuhan yang dirindukan.


St. Ignatius mengakhiri peziarahannya dengan mewariskan semangat rohani “menemukan Tuhan dalam segala” dan cara olah rohani yang menggarisbawahi doa sebagai saat dan kesempatan mengenal kehendak Tuhan sebagai obor kehidupan. Dengan dua warisan itu, kita dibantu untuk mengelola hidup dan menjalaninya secara lebih bermakna: Tuhan Allah dimuliakan dan sesama dicintai serta diselamatkan, dalam jalinan hidup, menyatu eratnya antara karya dan doa, aksi dan kontemplasi. St. Ignatius Loyola, doakanlah kami.
Selamat Tahun Baru 2017.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran