Joseph Ratzinger dan Devosi Hati Kudus (2) : Meraba yang Tak Teraba

February 23, 2017

Menurut Ratzinger, unsur yang hakiki dalam devosi Hati Kudus seperti diajarkan oleh ensiklik Haurietis Aquas adalah tubuh atau badan. Tubuh bukanlah sesuatu di luar roh. Tubuh adalah ungkapan roh. Dalam tubuh kita bisa melihat apa yang tak terlihat dari roh. Karena tubuhnya, manusia sebagai gambaran Allah dapat terwujud dan terlihat secara nyata. Sejak penciptaan, Allah telah mengungkapkan diri-Nya lewat tubuh insani dan dunia ciptaan yang terkait dengan tubuh insani itu. Tidak di lain “tempat”, tapi dalam tubuh dan alam insani itulah, Tuhan mewahyukan diri-Nya.

Dan pewahyuan dari Tuhan menjadi sempurna dengan peristiwa inkarnasi, atau penjelmaan, di mana Sabda Tuhan sendiri yang menjadi manusia, bertubuh insani dan hidup dalam alam insani. Dengan menjadi daging, Tuhan masuk dalam rasa dan derita manusia. Manusia, dengan seluruh keinsanian rasa tubuh dan badannya, kemudian dihantar ke dalam roh, dan selanjutnya roh menghantarkannya kepada Tuhan. Itulah proses inkarnasi Sabda, yang hidup di dunia bersama manusia dan mewartakan kabar gembira, lalu menderita dan mati seperti manusia biasa, tapi kemudian dibangkitkan dan bersatu dengan Allah dalam kemuliaan-Nya.

 

Jadi inkarnasi bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan proses yang akhirnya berpuncak pada misteri Paskah. Karena misteri Paskah inilah apa yang tak terlihat bisa menjadi terlihat. Dengan amat indah peristiwa ini diceritakan dalam Yoh 20:26-29, yang berkisah tentang Thomas, si peragu. Semua murid percaya bahwa Tuhan sungguh bangkit, tapi Thomas tidak. Katanya, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,” (Yoh 20:25)

 

Tuhan kemudian datang, dan meminta Thomas untuk mencucukkan jari atau tangannya. Thomas tak mau melakukan itu, dan tanpa melakukan itu, ia percaya: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:27). Begitulah Thomas mengenal Siapa yang tak dapat disentuh. Tanpa menyentuhnya sama sekali, ia melihat Siapa yang tak dapat dilihat, tanpa melihatnya sama sekali. Kata Ratzinger, dengan latar belakang itulah kita bisa mengerti kata-kata indah Santo Bonaventura tentang Hati Kudus, yang dikutip dalam ensiklik Haurietis Aquas: “Hatimu luka, supaya melalui luka pada tubuh-Mu yang kelihatan itu, kami melihat luka cinta-Mu yang tak kelihatan”.

 

Dengan demikian jelas, bahwa devosi Hati Kudus Yesus itu berkaitan atau bahkan berpuncak pada misteri Paskah. Atau bisa dikatakan, karena hati yang terluka pada tubuh Yesus itulah misteri Paskah bisa diraba dan dimengerti. Dalam hati yang Terluka itu kita bisa melihat, merasa, dan mengalami Sabda, baik dalam hidup dan penderitaan-Nya, maupun dalam misteri kebangkitan-Nya. Kita semua memerlukan lambung yang terluka itu, supaya kita dapat mengenal Allah dan Putera-Nya.

Kata Ratzinger,”Kita semua adalah Thomas, orang yang tidak percaya, dan kita semua, seperti dia, meraba Hati Kudus Yesus yang terbuka, dan di dalam Hati itu, kita meraba dan merenungkan Sabda sendiri. Jadi, dengan tangan dan mata yang terarah pada Hati tersebut, kita juga akan mengakui dan berkata,”Ya Tuhanku dan Allahku”.

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran