Joseph Ratzinger dan Devosi Hati Kudus (4) : Hati yang hancur luluh

February 25, 2017

Puncak kehidupan kristiani adalah misteri Paskah. Dan termasuk dalam misteri Paskah ini adalah penderitaan Yesus. Yesus sendiri sungguh menderita, karena dia mempunyai kemampuan untuk menderita dengan tubuh-Nya, dan merasakan penderitaan itu dengan rasa dan Hati-Nya. Cinta hanyalah omong kosong belaka, jika tidak bisa dan tidak mau menderita. Yesus telah membuktikan bahwa Dia sungguh mencintai kita, karena Dia sanggup menderita, dan dapat merasakan penderitaan itu dalam Hati-Nya.

 

Tapi penderitaan dan cinta Yesus itu akan kosong belaka, jika kita juga tidak pernah merasakannya dalam hati, rasa dan tubuh kita. Karena itu hati manusia, yang bisa merasa ini adalah jalan masuk yang paling singkat ke dalam misteri penderitaan Tuhan. Ensiklik Haurietis Aquas mengingatkan, bahwa hati Yesus yang luka menganga ditembus pedang itu adalah potret yang dengan padat merekam penderitaan dan cinta Yesus. Untuk menyelami Hati yang menderita dan penuh cinta itu, manusia juga harus menggunakan hatinya. Dalam hati yang memandang Hati Yesus itu, manusia akan merasakan cinta Tuhan dengan segala emosi dan perasaan cintanya.

 

Hati adalah pusat, di mana manusia mengalami keutuhannya. Maka dengan hatilah, manusia dapat memeliharqa diri dan keutuhannya. Tapi seperti ditunjukkan dalam banyak teks kitab suci, Tuhan tak berkepentingan untuk memelihara keutuhan Hati-Nya. Justru Dia membiarkan Hati-Nya teriris-iris, dan terluka, karena Dia mau memberikan diri-Nya pada manusia, yang selalu berbalik dari-Nya dan mengingkari cinta-Nya.

 

Kendatipun demikian, Dia tak pernah berhenti memberi dan menyerahkan diri-Nya. Dan puncak dari pemberian diri itu terlihat dalam Hati Putera-Nya yang terluka, berduri dan berdarah. Hati Yesus bukanlah Hati yang utuh, tapi Hati yang hancur karena pemberian diri. Hati itu tidak menutup untuk menyelamatkan diri, tapi membuka untuk menyelamatkan dunia. Itulah Hati yang berisikan misteri Paskah.

 

Maka kata Ratzinger: Dalam Hati Yesus itu kita menghadapi pusat hidup kristiani. Hati itu bukan hati yang tertutup, tapi hati yang memberi. Hati itu memanggil hati kita. Hati itu mengundang kita untuk meninggalkan upaya kita yang sia-sia untuk memelihara kelestarian dan keutuhan diri. Hati itu mengajak kita untuk meneladan cinta-Nya, dan dengan demikian memberanikan diri kita kepada-Nya dan bersama-Nya. Hati itu mengajari, agar kita mencintai sepenuh-penuhnya. Dan kepenuhan cinta itu sendiri adalah kelestarian abadi yang bisa melestarikan dunia ini.  

 

 

G.P. Sindhunata S.J.

Bahan: Ensiklik Pius XII, Haurietis Aquas, 15 Mei 1956;Joseph Cardinal Ratzinger: Behold The Pierced One, An Approach to a Spiritual Christology, San Francisco (1986);dan Joseph Cardinal Ratzinger: The Paschal Mystery as Core And Foundation Of Devotion To The Sacred Heart, dlm.: Towards A Civilization of Love, A Symposium On The Scriptual and Theological Foundations Of The Devotion to The Heart Of Jesus, San Francisco (1985), hlm. 145-165

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran