Bila Kita Berkata Amin

Amin! Kata ini sering sekali kita ucapkan. Sehari-hari bila kita dengan bulat setuju, kita bilang amin. Bila orang memuji atau mendoakan agar kita sehat, cita-cita tercapai, atau agar kita sukses, spontan kita akan bilang amin. Dalam ritual tradisional, misalnya dalam selamatan, waktu kiai mengucapkan ujud agar terkabul, para peserta juga mengulang amin berkali-kali, sampai suasana selamatan penuh dengan kata amin.

 

Dalam ibadat di gereja, amin juga berulang kali keluar dari mulut kita. Gereja dan amin itu memang tak terpisahkan. Sampai ada pepatah, Gereja itu adalah amin sendiri. Dalam Gereja, amin adalah kata yang mengandung pengertian yang pasti dan tak terbantahkan. Maka, bila mau memperibahasakan mengenai kepastian yang tak bisa digugat, orang suka berkata, “Ya sudah pasti, pastinya seperti amin dalam Gereja.” Dalam kalangan Gereja Kristen, apakah sesungguhnya arti kata amin itu?

 

Menurut katekismus universal, asal kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani, yang artinya berkenaan dengan pengertian percaya. Dalam pengertian itu, amin atau percaya mempunyai makna lagi, seperti kepastian dan keteguhan, sumarah dan berserah, serta siap sedia dan bersetia (Konradsblatt, 47,2018, hlm. 20-22).

 

Kata amin banyak sekali dijumpai dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Ulangan, misalnya, kata amin digunakan berulang kali ketika bangsa Israel mendengarkan wejangan tentang berkat dan kutuk. Secara umum, Perjanjian Lama mengajarkan, Tuhan adalah Tuhan yang patut diamini, karena Dia adalah setia, patut dipercaya dan tak pernah ingkar akan janji-Nya.

 

Dalam Perjanjian Baru, kata amin sekurang-kurangnya muncul sebanyak 152 kali. Dalam Rm. 15:33 disebutkan misalnya, “Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.” Amin di sini berarti jawaban atas berkat Allah yang menyertai kita. Amin juga dipakai sebagai peneguh yang mengawali kalimat yang kemudian diucapkan, dan artinya adalah sesungguhnya. Misalnya, “Sesungguhnya (aslinya: Amen), selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu yota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5: 18).

 

Dalam Why. 3: 14-15 tertulis, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: ‘Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah.’” Teks ini mau menjelaskan bahwa Yesus adalah Sang Amin, artinya Yesus itulah Yang setia, Yang dapat dipercaya, Yang dijanjikan, Yang menebus dan menyelamatkan. Pendeknya, Yesus adalah Amin definitif dan terakhir dari cinta Allah kepada manusia. Pada Yesus Sang Amin jemaat hanya bisa mengamini, dengan mengucapkan amin, ya amin.

 

Tampak dalam amin juga terkandung maksud bahwa kita ingin memuji dan memuja siapa yang kita amini. Amin tidak mungkin kita ucapkan, jika kita tidak mempunyai hubungan dengan siapa yang kita puji dan puja. Jika kita mengucapkan kata amin kepada Yesus, berarti kita juga mempunyai hubungan dengan Dia.

 

Amin adalah kata yang paling sering kita ucapkan dalam ibadat atau misa. Seperti alleluya, amin (amen) itu kata yang kita pakai begitu saja, tidak kita terjemahkan lagi. Jadi, diandaikan kita mengerti dengan sendirinya arti kata amin itu. Pengandaian ini tidak seluruhnya benar. Sebab, karena begitu sering kita ucapkan, kita jadi tidak sadar bahwa kita tidak mengerti lagi arti dan kekayaan amin itu. Misalnya, pada setiap akhir doa yang diucapkan imam, umat menjawab amin. Seakan, amin di situ hanya kata untuk mengakhiri sebuah doa saja. Padahal seharusnya, amin di sini berarti bahwa kita menegaskan makna dan kebenaran doa itu, dan berkehendak untuk mengamalkannya.

 

Maka dalam 1Kor. 14: 16 kita diingatkan, mereka yang berdoa hendaknya mengucapkan doa yang bisa dimengerti dan diamini. Kalau tidak, orang juga tidak bisa mengucapkan amin terhadap doa itu: “… jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimana orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atau pernyataan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu akan apa yang engkau katakan.”

 

Jadi, amin itu mengandaikan tidak hanya kita mengerti, tetapi juga menegaskan dan menguati doa yang diucapkan. Amin tidak ada artinya bila kita pasif. Hanya bila kita aktif, baru kita bisa mengamini dengan sesungguhnya. Maka, pada zaman Bapa Gereja Hironimus, umat diminta untuk sekeras-kerasnya, nyaris seperti berteriak, ketika mereka mengucapkan amin. Maksudnya, mereka semua sadar benar akan doa yang telah diucapkan. Praktik ini terus meluntur. Sekarang, banyak orang ogah-ogahan mengucapkan amin. Bahkan sering malas mengucapkan kata itu seluruhnya, mulut hanya berucap, “Am .…”

 

Waktu menerima Tubuh Kristus, kita juga mengucapkan amin. Amin di sini juga sering kita ucapkan dengan asal-asalan saja. Padahal di sini terjadi misteri puncak hidup kita. Dengan mengatakan amin, kita sungguh menegaskan bahwa kita mau menerima Yesus yang telah memberikan diri sehabis-habisnya untuk kita. Dengan berkata amin, kita tidak hanya menerima Tubuh Kristus, tetapi kita juga ingin menjadi Tubuh Kristus, menjadi seperti Dia dalam segala hal. Dengan amin itu, kita dikuatkan oleh Yesus sehingga kita berani menjalani hidup ini seperti Dia.

 

Kita tidak usah khawatir, karena dengan amin itu, kita percaya Kristus bersama dengan kita dan menemani kita dalam hidup ini. Dengan amin itu, kita juga dipersatukan dengan saudara-saudara seiman dan sejemaat, karena Tubuh Kristus benar-benar menyatukan kita dalam satu Gereja dan keyakinan sama. Jadi, makna amin ketika kita menerima Tubuh Kristus itu sungguh luar biasa dalam dan kayanya. Maka, amin itu harus terus kita ulang-ulang, sampai betul-betul masuk merasuk ke dalam sumsum hidup dan iman kita.

 

Dengan amin, kita mengiyakan untuk masuk ke dalam horizon Tuhan. Horizon Tuhan jauh lebih luas dari hidup kita. Maka dengan amin, kita diajak untuk keluar dari kesempitan dan kesesakan hidup kita, menjelajah ke wilayah Tuhan, yang senantiasa memanggil kita. Berarti, amin mengantarkan kita menjadi diri kita seluruhnya. Ini sungguh menghiburkan, karena sering kita mengalami diri kita terpecah-pecah. Kita rindu untuk menjadi utuh, merenggut diri kita dari keterpecahan kita. Amin mempersatukan diri kita lagi, karena dengan amin itu kita menyatu dengan Tuhan yang meliputi seluruh diri kita.

 

Maka, amin adalah doa terpendek yang mencakup seluruh kekayaan, keluasan, dan kedalaman kita. Jika kita malas berdoa, atau merasa sulit berdoa, mengapa tidak kita coba untuk sekadar mengucapkan doa pendek ini: Amin, ya Tuhan, Amin, ya Yesus. ***

 

 

Salam,

Gabriel Possenti Sindhunata, SJ

 

Sumber: Majalah UTUSAN edisi Maret 2019

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran