Memaknai Tradisi Gereja

November 18, 2017

Dalam tradisi kita, Tahun Baru dirayakan masih dalam kaitannya dengan Hari Natal. Dalam kartu-kartu yang dikirimkan tertulis ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru” (Merry Chrismas and New Year). Penyatuan antara Natal dan Tahun Baru ini sebetulnya tidak tepat, karena itu alangkah baiknya kalau hal ini kita sadari. Hari Natal adalah perayaan keagamaan, yakni peringatan kelahiran Yesus Tuhan kita, sebagai juru selamat. Akan tetapi, Tahun Baru adalah perayaan profan, sebab menurut kalender Gereja, tahun baru dalam arti keagamaan seharusnya mulai pada awal masa Adven pertama. Itulah awal tahun liturgi. Akan tetapi tahun baru liturgis memang bukan hal yang penting untuk kekristenan. Perayaan Tahun Baru profan yang disatukan dengan Natal kristiani, memang memberikan nuansa kemerihaan perayaan tersebut, tetapi di lain pihak bisa memprofankan perayaan Natal, sehingga kemerihaannya menjadi semata-mata duniawi.

 

Lain halnya kalau yang kita peringati adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, yang memang jatuh pada tanggal 1 Januari. Tentu saja dalam rangka ini, kaitan dengan Hari Natal masih amat jelas.”Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah” merupakan pesta yang bisa dirunut dari ajaran tradisi sejak Konsili Efese (431), ketika pada Bapa Gereja menetapkan Maria sebagai Theotokos (Bunda Allah). Ajaran ini ditarik dari logika pengakuan pada Yesus sebagai Putera Tunggal Allah; maka bunda Yesus pun pantas memperoleh gelar Bunda Allah.

 

Dari tradisi Kitab Suci, kita memperoleh pemahaman bahwa “ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung Ibu-Nya.” (Luk.2:21). Oleh karena itu, tanggal 1 Januari (delapan hari sesudah Natal) dahulu sering dirayakan sebagai peringatan “Sunat Dalem” (bhs Jawa). Sedang tradisi Roma, hari itu dirayakan Pesta Nama Yesus (II Nome di Gesu). Mudah dipahami, bahwa pesta “Pesta Perawan maria sebagai Bunda Allah”, “Pesta Nama Yesus” atau pun “Sunat Dalem” mempunyai kaitan erat satu sama lain. Sunat Yesus merupakan tradisi yang dijalankan oleh orang Yahudi, seba

 

gai tanda kesetiaan pada Perjanjian dengan Allah (Kej. 17:10). Perjanjian ini diperbaharui oleh Yesus, melalui kedatangan-Nya ke dunia. Pesta tradisional “Sunat Dalem” pun hilang digantikan dengan “Pesta Nama Yesus” yang lebih sesuai dengan zaman kita. Ketika Yesus diberi nama,- seperti juga dalam tradisi kebudayaan kita-, sebagai anak kedudukannya menjadi jelas. Menjadi jelas pula, siapa ayahnya, siapa ibunya. Oleh karena itu tak ada yang aneh bahwa “Pesta Nama Yesus” menyatu dengan “Pesta Bunda Maria sebagai Bunda Allah.” Mengapa perayaan Tahun Baru harus disatukan dengan pesta Natal, itulah yang aneh. Seharusnya pesta itu diganti dengan Pesta Nama Yesus dan Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

 

Utusan No. 01, Tahun Ke-54, Januari 2004

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran