Beriman di Jalan Kegelisahan

Pembaca Budiman Maret 2018

 

Siapa pun kita pasti pernah mengalami Angst. Angst bukan sekadar berarti kegelisahan. Lebih dari itu, Angst juga berarti kekhawatiran, ketakutan, dan kengerian. Istilah Angst dipakai baik dalam filsafat, teologi, spiritualitas, maupun psikologi. Karena kita tidak terlalu akrab dengan istilah itu, biarlah Angst kita mengerti sebagai kegelisahan. Namun, dalam kesempatan ini hendaknya kegelisahan itu kita pahami sebagai istilah yang meliputi juga kekhawatiran, ketakutan, dan kengerian.

 

Kita bisa gelisah tentang atau karena apa saja. Gelisah karena perang, pertikaian, atau kekerasan. Jangan-jangan akibatnya akan menimpa kita. Gelisah karena bencana, yang belum tentu datang, tetapi akibatnya sudah kita resahkan. Juga karena kondisi eksistensial dan personal kita. Tibatiba kita gelisah ketika kita membayangkan sakit, penderitaan, dan ketakutan. Tak jarang pula kita menjadi gelisah karena mengenang atau membayangkan perginya atau hilangnya orang-orang yang kita cintai.

 

Kegelisahan itu bertambah, ketika situasi di luar menyalahgunakannya. Dalam bidang politik, misalnya, masuknya orang asing dimanfaatkan untuk menakut-nakuti rakyat bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan. Atau, pertikaian warga sengaja dipertajam dengan isu-isu SARA. Dalam bidang agama, orang ditakut-takuti akan datangnya hari kiamat atau hukuman di akhirat. Ini semua akan menambah kegelisahan. Nyatanya, sekarang hal itu banyak dilakukan oleh politikus-politikus atau orang-orang yang mempunyai kepentingan.

 

Kegelisahan bisa menjadi sangat kuat. Misalnya, ketika orang dipaksa untuk tiba-tiba memikirkan tentang kematian. Betapa pun kuat imannya, orang pasti bertanyatanya dan takut, bagaimana nasibnya bila kematian menjemputnya nanti. Kita juga bisa menjadi gelisah karena diri kita sendiri. Merasa tidak aman dan mengalami bahwa diri kita sendiri sesungguhnya adalah teka-teki yang sulit dijawab. Apalagi bila itu ditambahi dengan kegelisahan tentang kesehatan dan kelemahan-kelemahan kita. Kita jadi makin gelisah karenanya.

 

Kegelisahan itu ada, tetapi bukannya tak bisa diatasi. Cara mengatasinya, menurut Thomas Dienberg, profesor teologi spiritual di Sekolah Tinggi FilsafatTeologi Münster, bukannya dengan meniadakannya, atau menganggapnya tidak ada, atau menindasnya. Namun justru dengan menerima dan mengakui bahwa kegelisahan itu memang ada dan menimpa diri kita. Lalu, dalam kegelisahan itu, kita mencoba untuk selalu berusaha kembali berpegang kepada Tuhan, sumber dan dasar hidup kita. Kita berusaha menimba kekuatan dari sumber itu dan yakin bahwa kekuatan Tuhan itulah yang menjamin dan melangsungkan hidup kita. Itu semuanya bisa terjadi bila kita mau masuk ke dalam keheningan dan berdoa.

 

Jelas, kata Prof. Dienberg, tanpa iman dan kepercayaan akan Tuhan, sulitlah bagi kita untuk menghadapi kegelisahan. Ini tidak berarti bahwa dengan beriman, maka kegelisahan kita akan menyurut atau hilang. Sama sekali tidak demikian. Iman “hanyalah” akan menguatkan kita dan membantu kita untuk kembali pada kerinduan kita yang terdalam. Setiap diri kita pun pasti mempunyai kerinduan akan cinta dan hidup dan akan Tuhan sebagai penjaminnya. Jika kita melakukan hal tersebut, maka kita akan disanggupkan untuk menanggung danmenghadapi semua kegelisahan.

 

Maka, ketika dilanda kegelisahan, janganlah kita melepaskan Tuhan. Kita boleh percaya bahwa Tuhan merasakan kegelisahan kita, karenanya kita boleh makin menarik-Nya ke dalam kegelisahan itu. Namun, sering dalam keadaan demikian, Tuhan seakan tidak hadir dan ada. Jika demikian, kita justru harus makin percaya kepada-Nya dan mendekatinya. Keluhkan segala pertanyaan kita, adukan segala masalah kegelisahan kita.

 

Kita perlu keluar dari diri dan keterbatasan kita dan percaya bahwa bersama kita sungguh ada “Yang Lain”, yang menemani kita, menanggung kita, dan memberanikan kita. Pada saat kekuatan itu kita terima, kita akan mengakui bahwa Tuhan sungguh menemani kita, walau kita merasa Dia tidak ada ketika kita menghadapi kegelisahan kita.

 

Iman menolong kita untuk melihat jalan dalam menghadapi kegelisahan. Namun di lain pihak, kegelisahan itu juga dapat membantu kita menjadi semakin tabah dan berkembang dalam iman. Kegelisahan, dengan demikian, bukanlah sematamata kondisi yang negatif, melainkan kenyataan yang kita perlukan untuk menjadi manusia selengkap-lengkapnya. Itulah yang diceritakan dengan penuh ironi dalam dongeng penulis terkenal, Grimm Bersaudara (Die Brüder Grimm) tentang “seseorang yang pergi untuk mempelajari kegelisahan”.

 

Diceritakan, ada seorang anak yang dungu dan pemalas. Ayahnya sampai tidak tahu, bagaimana harus memperlakukannya. Anak ini sering mendengar ada orang takut dengan alasan apa saja, takut kegelapan, takut setan, takut roh jahat, dan sebagainya. Ia tidak habis mengerti mengapa orang takut. Maka, ia bertekad untuk belajar, apakah ketakutan itu. Ayahnya jengkel dan bilang, “Untuk masa depanmu, kamu harus belajar bagaimana mencari makan, bukan belajar tentang ketakutan.” Tetapi, anak itu menjawab, “Saya akan mempelajari dulu apakah ketakutan itu, baru nanti saya akan mencari nafkah.”

 

Ayahnya lalu mendatangkan seseorang untuk menjerumuskan dia dalam ketakutan. Namun, ia tetap tidak takut dan bertanya terus, apakah ketakutan itu. Maka, ayahnya merelakan dia pergi untuk belajar tentang ketakutan. Ia pun mengembara ke manamana untuk menimba ilmu takut itu. Ia berjumpa dengan beberapa orang yang menjebloskan dia dalam keadaan menakutkan dan mengerikan, toh ia tidak takut juga.

 

Akhirnya, ia bisa memperoleh putri raja, justru karena ia dianggap bisa mengalahkan ketakutan. Kendati sudah hidup enak, ia tidak pernah puas dan terus berguman, “Apakah ketakutan itu? Aku ingin mempelajarinya.” Istrinya, sang putri itu, jengkel. Maka, pada suatu malam, sang putri itu pergi mengambil ember penuh ikan. Lalu menyiramkan air itu kepada suaminya. Suaminya terkejut dan takut merasakan siraman air dan ikan-ikan itu. Pada saat itulah ia tahu dan sadar apakah ketakutan itu dan mengalaminya sendiri.

 

Dongeng Grimm Bersaudara ini hendak berkata, orang bisa sungguh menjadi manusia dewasa, bila ia pernah merasakan takut dan gelisah. Maka, merujuk pada dongeng Grimm Bersaudara, filsuf Søren Kierkegaard berkata, “Siapa belajar untuk merasa takut dalam cara yang ditentukan untuknya, dia adalah orang yang telah belajar meraih apa yang tertinggi.”

 

Bagi Kiekergaard, kegelisahan adalah ekistensial manusia dan kegelisahan itu bisa menjadi guru yang baik bagi kehidupan kita untuk menjadi manusia sesungguhnya. Karena itu, kegelisahan itu harus kita undang untuk mengajari kita. Manusia mesti gelisah. Yesus pun pernah mengalami gelisah, sampai mengeluarkan keringat darah. Justru karena itu, Ia bisa pasrah kepada kehendak Bapa-Nya. Kita pun perlu meniru-Nya, bila kita dilanda gelisah.

 

***

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran