Kupu-kupu yang Baik, Doakan Kami Lulus Ujian

October 5, 2017

 

 Meski Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun lahan sawah di pinggiran kota telah banyak yang berubah menjadi perumahan. Anak-anak muda dari desa pun memilih hijrah ke kota untuk sekadar menjadi pekerja lepas. Jika fenomena seperti ini terus terjadi, maka suatu saat Indonesia akan banyak mengimpor bahan pangan dari luar negeri.

Keprihatinan ini dijawab dengan lantang oleh anak-anak Pegunungan Menoreh yang belajar di Sekolah Dasar Kalirejo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo. Meski jauh dari ingar-bingar dan kemajuan kota, SD yang berada di wilayah Paroki St. Theresia Lisieux Boro ini sama sekali tidak tertinggal. “Kurikulum yang digunakan memang masih sama, tetapi kami juga mengajarkan kepada anak-anak agar tidak lepas dari habitatnya, yaitu sebagai anak dari petani dan pekebun,” terang Martina Nurcahyanti (32), guru kelas VI di sekolah yang telah berdiri sejak 1969 ini.

Y. Haryanto (46), guru dan salah satu penggagas program, menuturkan bahwa upaya tersebut dilakukan karena pihak sekolah melihat para orang tua yang semakin jarang melibatkan anak dalam bertani dan berkebun. “Teknik bertani bukan yang utama, karena tujuannya bukan menjadikan mereka terampil bertani, tetapi membuat mereka dekat dengan alam dan praktik keterampilan hidup,” tambah pria yang akrab disapa Yanto ini. Yanto kemudian menceritakan, “Dulu, kebun sayur yang dikelola para siswa ini berupa lahan kering. Karena masih gersang, butuh waktu berbulan-bulan mengolah tanah. Akhirnya pada tahun 2008 lahan ini bisa mulai digunakan.”

SD Kalirejo pun tak tanggung-tanggung dalam mengajarkan siswa bertani. Masing-masing kelas diberikan lahan untuk proses pembibitan, penanaman, perawatan, hingga panen. “Kelas III sampai VI punya lahan dan kolam, sedangkan kelas I sampai II masih menggunakan pot,” tambah Laurentius Hartanto (33), petugas administrasi sekolah ini.

Sejak pukul 06.00 hingga 07.00, sekolah dengan jumlah seluruh siswa 38 anak ini memulai aktivitas bertani tanaman organik di kebun seluas 2.000 m2 yang ditanami sawi, kol, pare, jagung, dan sayuran lainnya. “Jagung ini bisa langsung dimakan tanpa dimasak, lho,” kata Rm F.X. Alip Suwito, Pr, Pastor Paroki St. Theresia Lisieux Boro, kepada seorang pengunjung asal Swiss.

Tak hanya sekadar menanam, para siswa juga memanjatkan doa untuk tanaman mereka. “Kamu saya tanam ya, saya siram ya, tumbuh subur ya. Supaya bisa menjadi makanan untuk kami manusia,” ucap mereka kepada bibit-bibit tanaman itu. Kebiasaan berdoa untuk tanaman ini mereka lakukan setiap hari. “Tanaman memang tidak bisa berbicara, tetapi mereka juga ciptaan Tuhan. Maka, petani yang baik itu mau mengajak bicara tanamannya. Dengan begitu, di sini terbukti hasilnya lebih baik,” tutur Yanto.

Lewat aktivitas pertanian ini, SD Kalirejo telah mengajarkan banyak hal kepada para siswanya, antara lain cinta lingkungan, menghargai makanan, dan kewirausahaan. “Anak-anak setiap hari Sabtu panen sayuran, lalu pada Minggu pagi mereka menjualnya di gereja setelah Misa. Mereka juga meminta agar bisa jualan di pasar, tetapi kami belum mengizinkan dengan beberapa pertimbangan, misalnya soal keamanan dan stok yang belum banyak,” terang Martina.

Sebagaimana upaya SD Kalirejo dalam memberikan lahan bertani kepada anak agar memiliki ruang bebas yang lebih luas, aturan-aturan sekolah pun tercipta dari spontanitas dan kebutuhan anak. Meja-meja di dalam kelas disusun secara bebas, ada tugas membuatkan minuman untuk guru dan tamu, menentukan hari bekal (membawa bekal dari rumah), pengurus kelas yang berganti setiap bulan, mengelola majalah dinding, dan petugas upacara bergiliran. “Pengurus kelas sebulan sekali diganti supaya semua siswa dapat merasakan menjadi ketua, sekretaris, dan bendahara. Supaya ketika lulus, mereka siap memegang peran apa pun. Di sini, anak-anak biasa menyelesaikan masalah mereka sendiri, kami hanya membantu ketika mereka memang perlu bantuan orang dewasa,” papar Martina.

Meski masih tingkat sekolah dasar, kegiatan ekstrakurikuler tidak dilakukan setengah-setengah. Majalah dinding, misalnya, khusus diampu oleh para siswa kelas V. “Anak-anak kelas V tidak asal ambil dari internet lalu ditempel. Mereka sudah mampu mengadakan rapat untuk menentukan tema, narasumber, dan pembagian tugas. Lalu, mereka mewawancarai narasumber yang informasinya mereka butuhkan, seperti lurah atau ahli yang sesuai tema. Selanjutnya, mereka mengolahnya sendiri sampai ditempel di mading,” terang Hartanto bangga.

Hartanto pun mengaku, dirinya pernah dilapori orang tua murid yang menyatakan ada perubahan karakter dalam diri anak-anak mereka. “Orang tua kaget, ‘Lho? Sekarang anakku kok bisa buat minum untuk tamu dan mau ikut ke sawah juga?’ Ya, saya kira itu buah dari keterampilan yang diberikan SD Kalirejo,” ungkap Hartanto. “Kelas VI juga mendapat tugas khusus sebagai event organizer (EO),” lanjut Hartanto. “Kalau ada kegiatan camping, natalan, paskahan, dan lainnya, kelas VI bertugas menyiapkannya. Mulai dari konsep kegiatan, proposal, sampai pelaksanaan. Guru hanya hadir sebagai tamu undangan.”

Selain itu, para siswa pun dibiasakan membawa bekal dari rumah. Jika ada pedagang dari luar yang berjualan, siswa dengan sopan menghampiri, “Maaf, Pak, kami tidak membeli jajan dari luar.” Tentang hal ini Yanto menyatakan, “Paling tidak, di sekolah kita bisa membatasi anak-anak mengonsumsi jajanan yang kurang sehat. Tetapi kalau sudah di rumah, ya itu hak mereka dan orang tua masing-masing,” tandas Yanto.

Perilaku lain terjadi saat ada burung mati di depan kelas. Para siswa berinisiatif menguburkannya. “Di situ mereka menulis, ‘Dilarang merusak kuburan ini tanpa terkecuali, termasuk guru’. Kemudian, kami memfasilitasi dengan memberikan tempat sebagai kuburan. Oleh karena itu, sampai sekarang sudah banyak tikus, kupu-kupu, ulat, dan macam-macam binatang lain yang mereka kuburkan di situ. Bahkan, mereka mendoakannya pada hari ketujuh dan hari keempat puluh setelah dikuburkan seperti manusia. Contoh doanya seperti ini, ‘Kupu-kupu yang baik, doakan kami lulus ujian ya,’ lalu dilanjutkan doa Bapa Kami dan Salam Maria,” cerita Hartanto sambil tersenyum.

Untuk memfasilitasi segala aktivitas para siswanya, SD Kalirejo mempunyai rencana pengembangan sekolah dengan membangun kelas baru di kebun agar ada integrasi antara kelas, kolam, dan kebun. Yanto menyatakan, tahun depan sekolah akan membangun dapur supaya para siswa dapat memasak seminggu sekali. “Menanam sudah, merawat sudah, memanen sudah, menjual juga sudah. Sekarang, tinggal memakannya yang belum. Maka, kegiatan memasak yang akan dilakukan kelak dapat menjadi sarana untuk mengajarkan anak-anak tentang nilai gizi, proses mengolah makanan, dan etika makan.

Mereka kami harapkan tidak hanya mau makan, tetapi juga tahu kandungan makanan serta etika di meja makan,” sebut Yanto.Yanto lalu menegaskan, proses mendidik itu harus dialami, diteguhkan, dan direfleksikan. “Saya yakin, proses di sini akan menjadi batu loncatan bagi mereka untuk menjadi orang-orang yang punya tanggung jawab,” pungkasnya.

 

 

Dimuat dalam UTUSAN Juni 2016

Yohanes Bara - Redaktur Majalah UTUSAN
@yohanes.bara

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Rubrik
Please reload

Follow Me
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Layanan Pelanggan

Redaksi

Ada pertanyaan? Hubungi kami di live chat.

Pengiriman
Pembayaran